Sunday, 18 May 2008

Zimmermman Memberi Roh Metropolis


Pesan Moral Metropolis dan Zimmermann

BANYAK hal istimewa dan mengasyikkan terjadi sepanjang nonton film Metropolis, dengan iringan piano secara live oleh Aljoscha Zimmermann, di Pusat Perfilman Usmar Ismail Jl Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Sabtu (6/3) malam pekan lalu. Metropolis yang bisu mendapatkan rohnya hingga film berdurasi 127 menit garapan sutradara Fritz Lang (5 Desember 1890-2 Agustus 1976) ini menjadi tontonan menarik tak membosankan. Ratusan penonton -di antaranya Dubes Jerman Heinrich Seeman- tampak menikmati Metropolis yang berujung dengan gemuruh tepuk tangan, disertai standing ovation di akhir film.


Tentu, permainan andal pianis Zimmermann ikut menunjang suasana semarak. Dengan partiturdi hadapannya dan sesekali mencuri pandang ke arah layar, profesor musik Sekolah Tinggi Musik di Muenchen ini terlihat mampu mengimbangi irama film. Tak jarang Zimmermann memainkan musiknya dengan tempo lambat, terutama ketika di layar muncul adegan-adegan romantis. Sementara dentingan piano sering pula ia mainkan dengan tempo vivache, untuk mengiringi adegan orang membanting pintu, marah, atau mengejar-ngejar lawan.


Jadilah pemutaran Metropolis dan resital piano oleh Zimmermann itu sebuah pagelaran duet musik-film yang berjalan seiring, seirama, dan saling melengkapi. Metropolis yang bisu mendapatkan jiwanya berkat Zimmermann. Sebaliknya, permainan pianis asal Muenchen ini lalu menemukan konteks dan relevansinya dalam film tanpa suara ini.


Bermain maraton selama dua jam tujuh menit -sepanjang durasi Metropolis- tak membuat Zimmermann capai. Sebaliknya ia puas, ketika ratusan penonton -di antaranya duduk di tangga karena tak kebagian kursi- langsung meresponsnya dengan tepukan panjang. "Permainan yang sangat mengasyikkan," puji pemusik Tony Prabowo dan Arjuna Hutagalung usai pertunjukan.

***

DIBUAT di Universum-Film-Aktiengesellschaft (UFA), sebuah studio di Berlin, Metropolis dikerjakan tahun 1925-1926 selama 310 hari dan 60 malam, berdasarkan skenario garapan Thea von Harbou, istri Lang.


Didukung 750 aktor-aktris dan lebih dari 30.000 figuran, film yang diluncurkan di Berlin 10 Januari 1927 ini menggandeng Brigitte Hell sebagai Maria/Maria "Mesin", Alfred Abel (Jo Fredersen), Gustav Frohlich (Freder), Rudolf Klein-Rogge (Rotwang) dan lainnya.


Menurut Urgosikova dalam sebuah ulasannya di International
Dictionary of Films and Filmmakers-1 (St James Press: Chicago-Londonm 1990), Metropolis termasuk satu film Lang yang istimewa. Lewat film bisu hitam-putih ini, tulisnya, sutradara kelahiran Wina yang belakangan beremigrasi ke AS ini mendapatkan "saluran" untuk mewujudkan impiannya, tentang kemungkinan terbentuknya sebuah tipe masyarakat baru, sekalipun hanya merupakan utopia (impian semata) waktu itu.


Masyarakat baru itu adalah sebuah komunitas manusia, terdiri dari dua strata sosial dengan konflik kepentingan antarmereka sebagai cirinya. Inilah tipe masyarakat metropolis di "lapisan atas" yang hidup makmur dan berlebihan. Bersamaan di "lapisan bawah" sebuah komunitas buruh yang hidup melarat, akibat eksploitasi berlebihan oleh pemilik modal.


Perbedaan kepentingan inilah yang membawa dua "lapis" komunitas itu pada situasi konflik, hingga akhirnya terjadilah pemberontakan melawan si tiran Fredersen. Metropolis menokohkan Freder, anak Fredersen, sebagai seorang provokator yang menyatakan berdiri di belakang buruh untuk melawan ayahnya. Konflik anak-bapak ini semakin kencang ketika mereka saling memperebutkan cinta seorang perempuan bernama Maria.


Sebagai sutradara, Lang terpengaruh film-film ekspresionistik yang berkembang tahun 920-an, khususnya bentuk artistiknya. Salah satunya terlihat di Metropolis, ketika ia mengkontraskan masyarakat metropolis di "lapisan atas" yang bergaya modern-futuristik dengan sebuah rumah kuno di "lapisan bawah", di mana hidup Rotwang, sosok pria misterius dengan peran ganda: ilmuwan sekaligus tukang nujum.


Lewat percobaan kimia, Rotwang berhasil mengisi "roh" atas raga seorang perempuan yang ia beri nama Maria "Mesin", sebuah adegan yang mengingatkan orang pada film The Bride of Frankenstein. Dan Maria "Mesin" inilah yang atas rekayasa Rotwang-Fredersen diciptakan agar bisa mematahkan semangat juang Freder, yang memilih memihak kaum buruh daripada ayahnya sendiri.


Lang mengakhiri filmnya dengan kalimat bijak: "Hati memang sebaiknya menjadi mediasi antara otak dan tangan". Dengan rumusan lain, Metropolis mau menegaskan satu kebenaran moral: nurani (suara hati) adalah pelita kehidupan. (Mathias Hariyadi)

Masyarakat Lapisan Atas--Inilah gambaran tipe sebuah masyarakat baru yang hidup serba modern dan berlebihan di lapisan bumi bagian atas. Di bawahnya tinggallah satu komunitas sosial lain dengan kondisi jauh berbeda yang ditandai dengan kemiskinan. Itulah masyarakat buruh yang diperas tenaganya oleh masyarakat "lapisan atas".

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas
Foto: Istimewa

Long Torso Astari Rasjid

Astari Bermain Tanah Liat

TANAH liat biasanya menimbulkan konotasi kotor, basah, dan hitam. Namun bagi perupa Astari Rasjid (46), benda ini justru menjadi barang mainan mengasyikkan sekaligus menyumbang inspirasi.


Olahan tangan Astari bisa mengubah seonggok tanah liat jadi sebuah patung torso menawan, menggemaskan, sekaligus punya ciri seni kental. Dan pameran seni instalasi long torso selama sebulan penuh di Galeri Padi, Bandung yang berakhir 10 Mei lalu menjadi medium Astari mengkomunikasikan refleksinya tentang fenomena artifisialisme manusia.


"Long torso adalah bagian penting busana kebaya. Itu biasa digunakan untuk membentuk definisi atas bentuk tubuh yang ramping, tegak, penuh wibawa dan agar penampilan pemakainya terlihat lebih cantik dan menggairahkan. Padahal untuk semua itu, perempuan tersebut harus menderita sesak napas," ungkapnya di studionya, Jumat (21/5) malam.


Di balik keindahan berkebaya, tambahnya, long torso memang bisa menonjolkan keindahan namun sekaligus juga bisa menyembunyikan ciri identitas personal si pemakainya yang sebenarnya. Jadi jangan heran bila kemudian lahir istilah pseudo-security sebagai judul resmipameran Astari untuk sembilan buah long torso yang digantungi tali lawe dan berbandul jimat merah seperti yang telah dipamerkan bersama karya para seniman Asia-Pasific di Bandung itu.

Tentu kerja serius buat Astari, karena ia harus mengolah tanah liat itu bersama bahan resin dengan bronze sebagai finishing-nya. Apa-lagi ia masih harus menambahnya dengan atribut-atribut lain. "Atribut menjadi bahasa metafora saya untuk mempertanyakan fungsi kebaya dan long torso yang bermuka dua: mempercantik penampilan tetapi sekaligus menyembunyikan identitas diri sebenarnya," jelasnya.


Kini Astari masih sibuk menciptakan patung-patung lain untuk memeriahkan pameran di Bentara Budaya Yogyakarta akhir bulan ini. Usai di Yogya, barulah dia akan membuat pameran tunggal di Bali dan berikutnya di Singapura menjelang pergantian milenium nanti.
(Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Sunday 23 May 1999
Photo credit: Kompas/Mathias Hariyadi
Source: Kompas Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.45.2
Nama dan Peristiwa
KOMPAS - Minggu, 23 May 1999
Halaman: 12
Penulis: RYI

Ukuran: 2107

Saturday, 17 May 2008

Soal Tamak dan Rakus, Orang Jakarta Jagonya Cing!

Melebihi Belanda, Itulah Jakarta

BICARA soal tingkat kezaliman maupun watak rakusnya, ternyata elite politik di Jakarta jauh lebih ganas dibanding elite kolonial Belanda. Paling tidak itulah penilaian penyair Aceh sekaligus Ketua Panitia Kampanye Seni untuk HAM Aceh (Kasuha) Fikar W Eda, lewat sajaknya Melebihi Belanda, Itulah Jakarta!. Sebuah puisi duka yang terdengar amat garang namun juga menyentuh hati.

Pernyataan tegas itu berulang kali bergaung keras di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), ketika Selasa (7/9) malam lalu digelar acara seni Prosesi Tulak Bala oleh para seniman-seniwati peduli Aceh. Inilah puncak acara dari serangkaian kegiatan Kasuha selama sebulan terakhir.

Pembacaan puisi Melebihi Belanda, Itulah Jakarta! adalah satu cara untuk menggugah kesadaran kritis atas derita rakyat Aceh. Cara serupa dilakukan penyair kawakan Taufik Ismail. Dalam kaitan ini bahkan Taufik terkesan lebih garang dan menyayat hati. "Bina Graha (kantor Presiden RI-Red), itulah VOC masa kini!" katanya berteriak, penuh emosi namun enak terdengar di telinga penonton.

Elite politik Jakarta, katanya lewat puisi VOC, tingkat kerakusan-nya sudah melebihi "keganasan" mesin pencetak uang kerajaan bisnis kolonial Belanda. Bumi Aceh adalah satu contohnya: ketika kekayaan alam di kawasan Serambi Mekah ini dikuras habis-habisan, saatbersamaan justru warganya tak kunjung putus menjadi korban operasi Daerah Operasi Militer (DOM) yang dilancarkan tentara.

"Kepala-kepala manusia itu jatuh menggelinding begitu saja ke tanah karena ditebas pedang. Ini sama sekali bukan sebuah metafor, karena bukti konkretnya ada dan kini saya bawa ke hadapan Anda sekalian," ucapnya dengan suara bergetar sembari mempertontonkan sebuah foto yang memperlihatkan kepala manusia terpisah dari tubuh.

Tak cuma Taufik, penyair gaek WS Rendra pun menyampaikan isi hatinya lewat dua sajaknya yang berjudul Tentang Mata dan Tentang Mata Pula. Agak berbeda dibandingkan penampilannya pada acara serupa dua bulan lalu di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof Hamka-dan di Gedung Kesenian Jakarta sebulan kemudian-yang terkesan garang, penampilan Mas Willy kali ini jauh dari kesan itu. Syahdu dan menyayat hati. Pokoknya, membuat penonton menangis menyaksikan bumi Aceh tercabik-cabik seperti tampak lewat display foto-foto kekerasan tentang Aceh.
***
Prosesi Tulak Bala bermula dari plaza terbuka TIM, persis di pinggir Jl Cikini Raya. Berbaur dengan lalu-lalang pejalan kaki, penonton yang mayoritas para pekerja seni Kasuha dan simpatisannya menyaksikan berbagai ekspresi seni tentang tragedi Aceh. Musikalisasi oleh Sanggar Seni dari Universitas Muhammadiyah Prof Hamka, koor Universitas Islam 45 Bekasi, Teater Anak-anak Sanggar Matahari ikut mengisi bagian pentas di luar gedung ini.

Prosesi Tulak Bala -ekspresi seni lewat arak-arakan manusia pembawa obor yang berjalan sembari melantunkan salawat badar dalam bentuk nyanyian- menutup pentas outdoors ini yang segera berlanjut di Graha Bhakti Budaya. Sepenggal tarian Rapai Geleng karya koreograferNoerdin Daud asal Aceh mengawali pertunjukan, disusul pembacaan Hikayat Aceh oleh Teuku Ruslan dengan kualitas suaranya yang begitu indah namun juga menyayat hati.

Penari Cut Aja Rizka dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) melanjutkannya dengan tarian Perang Sabil. Inilah tari yang menggambarkan kelembutan sekaligus kereligiusan perempuan Aceh dalam hidup kesehariannya. "Namun jangan tanya, cacing pun akan mogel (bergerak tanda protes) bila diinjak. Lebih lagi perempuan Aceh bila diperlakukan kasar, ditindas, dan direbut kehormatannya. Mereka akan angkat rencong dan maju ke medan laga," ungkap Noerdin Daud.

Tari Didong oleh Grup Kesenian Denang Gayo dari Musara Gayo, Aceh Tengah, mengakhiri pentas seni bertajuk Proses Tulak Bala ini. Sebuah pesta ekspresi duka sekaligus keprihatinan yang mendapat respons hangat dari para penonton-tua, muda, anak-anak, namun mayoritasmahasiswa peduli Aceh. Yang pasti, kata ketua panitia Fikar Eda, pentas seni menutup gerakan Kasuha ini sangat efektif. Terbukti, ada begitu banyak para dermawan yang rela merogoh kantungnya untuk membantu penderitaan rakyat Aceh. (Mathias Hariyadi)


JAKARTA LEBIH GANAS -- Penyair muda Aceh, fida E Eda, dengan semangat meneriakkan pernyataan "Melebihi Balanda", Itulah Jakarta!" yang menyentak penonton. pembacaan puisi itu menjadi bagian pertunjukkan Prosesi Tulak Bala oleh panitian Kasuha di TIM, Selasa (7/9) malam.

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Thursday 9 September 1999
Photo credit: Kompas/Mathias Hariyadi
Caption title & text: Kompas/Mathias Hariyadi

Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.79.135
Melebihi Belanda, Itulah Jakarta!
KOMPAS - Kamis, 09 Sep 1999
Halaman: 21
Penulis: RYI
Ukuran: 4695
Buyung, Surya and Yulianti joined me in this reporting.
Java: Starting from scratch after quake

AsiaNews visited the areas hardest hit by the 27 May quake in Java: Wedi, Gantiwarno and Bayat in Klaten regency. Here are the stories of survivors, who search among the ruins for items of value, and who are paralyzed by terror. The tragedy has led to previously unheard-of trends, like begging and heavy vehicle traffic.

Wedi (AsiaNews) – By day, they remove the debris of what was once their home, and they build makeshift shelters that line the streets. By night, they try to sleep, in the cold, in a tent, but aftershocks prevent peaceful slumber. And no help is coming from the government. This is life in Wedi, Gantiwarno and Bayat districts in Klaten Regency, one week after a tragic earthquake that killed 5,782 people on the Indonesian island of Java. AsiaNews visited these places, more or less forgotten by the media and the authorities, and talked to survivors.

The quake measuring 6.3 on the Richter scale completely destroyed 30 villages and flattened 40,000 homes.

Ganesha is a university student from Jember whose parents are from Wedi, to where he rushed after the disaster. He told AsiaNews: “The tremendous damage is unthinkable… I was speechless when I saw the situation. People have been stranded by uncertainty and a shortage of everything makes it nearly impossible for them to be able to rebuild their lives.”

Mukir, 58 years, a Catholic resident of Gayamharjo di Njali, said: “Survivors are now fully dependent on relief aid teams both financially and materially.” While helping his neighbours to clean their debris, he adds: “You can see for yourself here: people help one another, what else can we do?”

The house of the Soeradjis family in Jabung, Gantiwarno, was severely damaged. “We must start again from scratch,” said Aghata, the daughter, while her father recalled: “We were about to wake up, when a strong earthquake jolted and suddenly the wall collapsed on my wife, who is now in hospital in Solo.”

The earthquake swept away everything that Mrs Suwito of the village of Jiwo Wetan owned. “I have nothing more, except the clothes I am wearing now,” said the woman, who must live on the side of the main road from Wedi to Bayat, without even a tent.

As they have received no aid at all from the government, people must fumble in the ruins to find something to eat. Two women aged over 70 were rummaging among the remains of fallen buildings to find something of value. Both were dirty and sweaty in temperature reaching 39°. One of them, Mrs Prawiro, had no relatives around and her only son in Surabaya (East Java) had not yet gone to find out how she was. Mrs Yati, meanwhile, was completely alone.

Meanwhile, more and more settlements of tents are lining the streets, where survivors prefer to live, fearing tremors yet to come. Wahyuni, a mother of three, originally from Jabung in Gantiwarno, said: “We have no choice but to stay here in the strong sunshine and the cold weather at night.”

Aftershocks have become a daily occurrence; Suliyah from Jagalan village, asked: “How can we sleep if we feel aftershocks every night? We are terrified.”

The landscape of these stricken areas has changed in more ways that one. Not only do tents line the streets; there are also beggars, especially children, something previously unheard of. They come from different places in Indonesia and many are relatives of the victims. Also previously unknown is the heavy traffic of vehicles, so congested that locals say they have been unable even to move their motorcycles for a week.

Written and posted by Mathias Hariyadi for AsiaNews
Copyright © 2003 AsiaNews All rights reserved.

Friday, 16 May 2008

Apologi Batas Djaduk dan Harry Roesli

Kolaborasi Perkusi Djaduk-Harry-Raka
Antara Radikalisme dan “Kegendengan”

HARRY Roesli dan DKSB (Depot Seni Kreasi Bandung) menyulapblek-blek bekas tempat minyak atau kerupuk menjadi instrumen musik.Lewat musik kaleng ini, mereka memotret fenomena kekerasan, kebiadabanmanusia sekaligus memuntahkan lewat bahasa gambar.

Karena itu sebuah layar monitor dan sebuah dipan melengkapi tumpukan blek yang berserakan memenuhi seluruh sudut panggung. Inilah properti utama Apologi Batas, konser perkusi kelompok DKSB di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (30/7) malam lalu.

Visualisasi foto dan video kekerasan di layar monitor tampil bersamaan dengan adegan sadis, ketika seorang di atas dipan sedang meregang ajal karena lehernya digorok dan kepalanya dipalu pembunuh bertangan dingin. Begitu radikalnya pemandangan fenomena kebiadabanmanusia-sementara di layar monitor tersaji video rekaman "proses" pembunuhan-Harry sampai minta maaf berulang kali kepada penonton. "Bila tak tahan menyaksikan, harap jangan pernah ragu menutup mata. Ini saya tampilkan bukan karena mau cari sensasi, namun lebihkarena pertimbangan estetika," ungkapnya.

Harry sengaja menampilkan fenomena kekerasan secara radikal alias tanpa tedeng aling-aling. Adegan mutilasi, penggorokan, pencincangan tubuh, menjadi satu paket bersama dengan permainan musik blek. Dan mereka memainkannya secara radikal: dipukulnya blek-blek itu dan tak jarang ditendang, didepak, atau tumpukannya dirubuhkan secara kasar sehingga muncul efek suara breng...

Mendadak sejumlah penonton dilanda rasa muak dan ingin muntah. Apologi Batas menyulut itu, karena radikalisme memotret kekerasan di sini dilakukan tanpa reserve sedikit pun.
***
RADIKALISME Harry dalam Apologi Batas dan Djaduk Ferianto yang gendeng dalam Meja (Agak) Hijau, didukung Butet Kartaredjasa dankelompok musik Kua Etnika. Jadilah Meja (Agak) Hijau ini sebuahrepertoar musik teater yang menarik, ritmik, dan tentu saja kocak. Dan Djaduk memilih pemukul kenong (nama instrumen gamelan) untuk mengabadikan sebuah peristiwa penting namun sarat rekayasa politik. Itulah proses peradilan Soeharto.

Berbusana jas hujan ponco, Djaduk (panitera) dan para musisi Kua Etnika (seorang berperan jaksa dan lainnya pembela) berdiri mengelilingi meja. Inilah dlogok-nya Kua Etnika yang mampu memfungsikan meja kayu sebagai instrumen yang melahirkan musik yang indah ketika papan atas meja itu ramai-ramai dipukuli.

Sementara sebuah kursi kosong di tengah panggung menjadi pusat perhatian. Inilah simbol tokoh pesakitan di mana harus duduk Sang Terdakwa (suara diisi Butet), seorang mantan pemimpin nasional. Namun karena terdakwa terhormat itu orang Jawa-sementara posisi sebagai kawula mengharuskan aparat penegak hukum itu harus menaruh hormat dan loyal-maka terpaksalah Djaduk dan kawan-kawan menyapa Sang Terdakwa itu dengan sebutan "Saudara Bapak...".

Kegendengan Kua Etnika muncul saat menghadapi Sang Terdakwa. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka berganti baju, dilepaslah "seragam" pengadilan untuk diganti dengan busana khas Jawa gaya Yogyakarta lengkap dengan blangkon mondolan dan melakukan sembah.

"Jadi, bagaimana dengan Bapaknya?," kata Butet di balik layar menirukan rekaman pembicaraan telepon Habibie-Ghalib yang membuat heboh itu. Komentar yang langsung menyulut gerr yang panjang. Begitu pula ketika gerak tangan yang sangat ritmik dan seragam diolah Djaduk untuk melambangkan loyalitas mereka terhadap "titipan" atasan atas proses peradilan yang penuh tipu-tipu itu. Tak heran, pentas ini pun lalu resmi bernama Meja (Agak) Hijau yang batas antara tragedi dan komedi begitu tipis.
***
FENOMENA kekerasan dan rekayasa politik penuh tipu-tipu juga menjadi kajian refleksi musisi Bali, I Gusti Kompyang Raka. Detak Revolusi Menentang Selaras mengekspresikan itu secara radikal sekaligus masif. Diawali bunyi gamelan Bali yang dinamis, sejumlah penari disertai seorang pedanda (pendeta) mengambil posisi di pusat panggung untuk menari dan memuncratkan air suci kepada 25 pemusik. Agak ke belakang, sebuah pura kecil berdiri dengan asap dupa yang harum mewangi.

Detak Revolusi Menentang Selaras adalah simbol pemberontakan batin orang Bali atas terjadinya dekadensi nilai-nilai moral. Budaya kekerasan dan rekayasa politik telah melahirkan nausea (rasa muak dan jenuh). Sementara panggilan nurani tetap menuntut harus setia pada
nilai-nilai konvensional.

Namanya saja pentas perkusi kolaborasi tiga musisi. Di ujung pentas ini, dengan lancar masuklah Harry dan Djaduk nimbrung ke dalam repertoar Raka. Keberadaan blek-blek kaleng memfasilitasi mereka bisa "masuk" ke Detak Revolusi Menentang Selaras. Begitu pula Soni (7),
pemusik jalanan, yang di awal pementasan sempat menyanyikan sejumlah lagu penuh kritik. "Sebuah pentas perkusi yang menarik, segar, dan kocak," ungkap pengamat musik Arjuna Hutagalung. (Mathias Hariyadi)

SIDANG DAGELAN - Para aparat penegak hukum-diantaranya Panitera (Djajuk Ferianto, tengah)- dengan penuh hormat melakukan sembah kepada "Saudara Terdakwa" dalam pentas perkusi Meja (agak) Hijau di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat-Sabtu (30-31/7) malam lalu.

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Sunday 1 August 1999
Photo Credit: Kompas/Eddy Hasbi
Caption credit: Kompas/RYI
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Kolaborasi Perkusi Djajuk-Harry-Raka:
Antara Radikalisme dan Kegendengan
KOMPAS - Minggu, 01 Aug 1999 Halaman: 1
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 5426

50 Tahun Republik Rakyat China

Mao Mendirikan RRC, Deng Membesarkannya

MAU menyaksikan betapa modernnya Cina? Lihatlah Beijing.

Ibu Kota RRC tahun 1995 dan situasinya tahun 1999 ini sungguh dua pemandangan berbeda. Empat tahun silam, begitu mendarat di Bandar Udara Internasional Beijing, ratusan pengemis segera mengepung para penumpang. Pemandangan sangat berbeda--untuk tak menyebutnya kontras--terjadi Minggu (20/9) lalu. Tak satu pun pengemis kelihatan di lingkungan bandara dan sekitarnya. Yang terlihat menonjol justru pemandangan serba baru dan bersih. Minggu itu adalah hari pertama dioperasikannya bandara baru.

"Beijing sekarang sangat berbeda dibandingkan dua tahun lalu. Sekarang di mana-mana macet, hal yang tak pernah saya jumpai dua tahun lalu ketika saya baru mulai bertugas di sini," ungkap Dubes RI untuk RRC, Letjen (Purn) Kuntara, kepada rombongan misi kesenian Indonesia dari Direktorat Kesenian Depdikbud. "Beijing kian rajin bersolek, mempercantik penampilannya," tambah mantan Komandan Jenderal Kopassus dan Panglima Kostrad ini.

Meski ditandai banyak kemacetan di sejumlah ruas jalan, Beijing tetap tertib dan aman. Tak ada aksi "main serobot" atau saling kejar antarbus kota untuk berebut penumpang seperti di Jakarta. Tetap macet, namun orang mau bersabar antre menunggu giliran. Menjelang usianya ke-50--terhitung sejak berdiri 1 Oktober 1949 atas maklumat Ketua Mao Zedong--banyak memang yang diselenggarakan di Beijing. Lihat saja pameran akbar dan terbesar sepanjang sejarah RRC yang hari-hari ini berlangsung di Beijing Exhibition Hall.

Selain sekilas fragmen-fragmen sejarah tempo doeloe RRC yang demikian kelabu sejak Perang Candu tahun 1839-1842 hingga awal berdirinya RRC tahun 1949, ekspo yang diikuti banyak negara ini juga menyuguhkan "peta" kekuatan Cina sekarang dan sejarah perkembangannya selama 50 tahun terakhir ini. Pameran teknologi senjata dan ruang angkasa ikut mendominasi ekspo ini.

"Kondisi sosial-ekonomi RRC kini semakin bertambah mantap. Situasi dulu dan kini ibarat Bumi dan langit," ungkap Jin Dong, warga Beijing, sembari memamerkan mulusnya kondisi ruas jalan bebas hambatan jalur sepanjang 80 km dari Beijing menuju Tembok Besar di Badaling, Beijing Barat.
***
TAK bisa dibantah, semua bentuk kemajuan pesat di banyak bidang itu terjadi berkat sentuhan "tangan dingin" Deng Xiaoping. Inilah pemimpin Cina kharismatis era modern, yang begitu berkuasa langsung bergerak cepat melancarkan program reformasi total.

Di sektor ekonomi ia mulai memberlakukan sistem ekonomi pasar. Petani tak lagi diorganisir dalam komune-komune, tetapi diberi hak mengolah lahan sendiri yang didistribusikan pemerintah. Dibukanya pintu bagi arus investasi modal asing memacu berdirinya gedung-gedung jangkung di kota-kota besar seperti di Beijing, Guangzhou, Shengzhou, Shenzhen, Shanghai, dan Wuhan. Kini, barang-barang konsumsi Barat merebak di mana-mana.

Tak mungkin memisahkan jejak-jejak awal sejarah "Cina baru" atau RRC modern dari Deng Xiaoping. Satu tonggak sejarah telah dipaku Deng berbarengan dengan Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral Partai Komunis Cina (PKC) ke-11 Desember 1978 yang memutuskan menolak mentah-mentah visi utopis gagasan Mao tentang "Strategi Lompatan Jauh ke Depan". Gagasan utopis Revolusi Kebudayaan (1966-1976) tentang perjuangan kelas diganyang Deng, yang kemudian mulai menyingkirkan model ekonomi Stalinis berupa kontrol negara atas ekonomi, kolektivitas pertanian, dan pembangunan industri bertumpu pada industri berat sejak tahun 1950-an.

Tetapi, apa pun yang dibuat Deng Xiaoping, nama Mao Zedong tetap dikenang rakyat. Mao mendirikan RRC dan Deng membesarkannya, itu jawaban spontan rakyat RRC tentang peran dua tokoh besar sejarah Cina modern ini.

Meski pada awalnya sempat terjadi konflik keras antara kubu konservatif dengan barisan progresif-radikal, kedua kubu ini sama-sama sepakat bahwa "Cina baru" harus dibawa ke arah kemajuan, kemakmuran, dan kuat dalam bidang militer.

Teori sosialisme Ketua Mao memang sudah dianggap usang oleh kubu progresif dan masyarakat RRC modern, namun mayoritas rakyat tetap menganggap Mao sebagai "Bapak Bangsa RRC". Foto ukuran besar Ketua Mao masih menghiasi Lapangan Tiananmen di jantung Kota Beijing, sementara patungnya masih berdiri kukuh di sejumlah sudut kota-kota besar di beberapa wilayah Cina.

Adapun tentang Deng Xiaoping, orang tetap mengenangnya sebagai Bapak Modernisme Cina". Gambar tokoh penting ini tampak menghiasi baliho-baliho raksasa di banyak sudut kota-kota besar. Ketua Mao mendirikan RRC, namun Deng Xiaoping yang berhasil membawa RRC menjadi bangsa besar dan maju. Begitu kata orang-orang RRC menjelang peringatan 50 Tahun RRC dalam genggaman kekuasaan PKC. (Mathias Hariyadi, melaporkan dari Wuhan, RRC)

Foto: Associated Press/Kyodo
DUA PEMIMPIN - Foto yang diambil pada tahun 1959 ini memperlihatkan Ketua Mao Tse-tung (Mao Zedong) bersama pemimpin senior Cina, Deng Xiaoping (kanan), memperhatikan lembaran surat di Beijing.

Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
50 Tahun RRC: Mao Mendirikan, Deng Membesarkan
KOMPAS - Jumat, 01 Oct 1999 Halaman: 1
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 5228
50 Tahun RRC

Leo Kristi, Musisi Penyebar Kritik


Seabad Perjalanan Bangsa, Semangat Baru TVRI

DIAM-diam dan tanpa banyak publikasi, TVRI mulai "unjuk gigi"; membuat gebrakan baru dengan nuansa berbeda dibanding empat stasiun teve swasta.

Lewat program acara spesial bertajuk "Seabad Perjalanan Bangsa" yang ditayangkan secara langsung (live) dari Auditorium TVRI, Kamis (30/12) malam lalu, TVRI menggelar acara "gado-gado" dengan perspektif menarik. Menjadi sangat signifikan mencermati "Seabad Perjalanan Bangsa", karena stasiun teve yang dulu sering disindir sinis sebagai "corong" pemerintah Orde Baru itu kini mulai mengambil sikap kritis sekaligus "revolusioner".

Di antaranya selain pertunjukan istimewa oleh musisi Leo Kristi dan Franky Sahilatua dipertunjukan film-film dokumenter sejarah politik Indonesia era 1900-1999 yang sejumlah cuplikannya selalu ditabukan oleh rezim Orde Baru, hingga tak pernah boleh ditayangkan. Taruhlah itu sejumlah shots penting tentang gambaran sosok Bung Karno lengkap dengan segala atmosfer kebesarannya yang menonjol dan leadership-nya yang menawan-sampai sejumlah peristiwa penting lainnya seperti Peristiwa Rengasdengklok menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika sejumlah pemuda nekat "menculik" Soekarno-Hatta ke luar Jakarta dan mendesak mereka untuk segera memerdekakan RI.

Bagi generasi sekarang yang nyaris tak pernah berkesempatan bisa menyaksikan "gambar hidup" Dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta dan suaranya semasa berjuang, maka "Seabad Perjalanan Bangsa" cukup mampu menjadi pelepas "dahaga" batin, yakni rasa ingin tahu tentang kiprah kedua pahlawan nasional ini.

Contohnya, suara Bung Karno memaklumatkan proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus di Jl Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, atau tepukan penuh hangat ke pundak Mayjen Soeharto saat dilantik menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat 14 Oktober 1965, guna mengisi kekosongan jabatan di lingkungan AD akibat tewasnya para jenderal senior dalam peristiwa G30S/PKI. Demikian pula, peristiwa Soeharto ketika mengawasi anak buahnya mengangkat jenazah para Pahlawan Revolusi dari sebuah sumur tua di Lubangbuaya, Jakarta Timur, 4 Oktober 1965.

***
DIBANDING program acara tayangan live stasiun-stasiun teve swasta, "Seabad Perjalanan bangsa" kemasan TVRI ini boleh dibilang "ketinggalan kereta". Selain miskin pemirsa langsung-acara ini hanya dihadiri para keluarga awak kru dan petinggi TVRI, satu-dua wartawan, dan keluarga seniman pengisi acara-program ini juga tak meninggalkan kesan glamor, lazimnya acara tayangan langsung teve-teve swasta yang selalu tampil serba "wah".

Nilai istimewa acara ini memang itu, tetapi sesuai dengan misinya yakni mengembalikan "kebenaran" fakta sejarah. Bisa dimengerti mengapa pada acara ini lalu hadir Dr Anhar Gonggong (sejarawan), Anas Urbaningrum (aktivis), Abdul Hakim (pejuang), Al Sastrouw Ng, dan perupa H Hardy (pengamat) dalam sebuah diskusi talk show tentang perlunya melihat sejarah masa silam guna meretas era sejarah baru.

Atau seperti kata Prof Fuad Hassan dalam pidato kebudayaannya dengan kutipan ucapan dari filosof Spanyol Jose Ortega y Gasset, katanya, "Bukankah hakikat manusia justru adalah kesejarahannya? (Man has no nature; what he has is history)."

Di sinilah segala seruan nyaring Leo Kristi lewat tembang Fajar, Nyanyian Malam, Nyanyian Tambur Jalan dan Franky Sahilatua dengan Bendera, Ewada dan Perahu Retak-nya menjadi sangat bergema. Apalagi ketika acara yang dipandu secara duet oleh Munyati Sulam dan Purnawa Suwardi ini diberi aksentuasi Prof Fuad dengan kutipan kata-kata ini; "Di atas tanah yang sama ini kita semua berdiri, dan di atas air yang sama pula ini kita berjanji..."
(Mathias Hariyadi)

SAYANG ANAK - Setiap kali naik pentas, Leo Kristi hampir tak pernah lupa mengajak anaknya naik panggung. Saat tampil memeriahkan acara TVRI bertajuk Seabad Perjalanan Bangsa yang ditayangkan secara langsung dari Auditorium TVRI Jl Gerbang Pemuda Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (30/12), Leo juga menyertakan anak-istrinya. Bahkan segala tingkah laku polah kedua anaknya dan sketsa-sketsa istrinya itu mampu memberi aksentuasi tersendiri pada pentas ini.

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Tuesday 4 January 2000
Caption and Photo credit: Kompas/Mathias Hariyadi

Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Seabad Perjalanan Bangsa, Semangat Baru TVRI
KOMPAS - Selasa, 04 Jan 2000 Halaman: 9
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 4355

Thursday, 15 May 2008

Cannes tak Sekedar Palme d'Or

Cannes, Semua Serba Uang

CANNES, kota kecil di bibir pantai Cote d'Azur, Perancis selatan, sekitar 1.000 km dari Paris, yang sering sepi kalau tidak ada kegiatan-kegiatan tertentu, menjadi ramai ketika berlangsung MIDEM 2000 de Cannes minggu ketiga bulan Januari ini.

Inilah forum pasar bursa musik internasional dan semua hasil industri musik dunia (sesuai namanya MIDEM yang merupakan kepanjangan Marche International de Disques et l'Edition Musicale) di mana bertemu kalangan industri musik untuk saling kenal, bicara, dan berbisnisbersama. Pembukaan acara berlangsung di gedung Palais des Festival di jantung Kota Cannes, Sabtu (22/1) malam waktu setempat (Minggu dini hari WIB), dilanjutkan coctail party di lantai dua di gedung yang sama untuk kemudian pesta all night long pada acara "Malam Indonesia" di ballroom Hotel Martinez tak jauh dari Palais des Festivals.

MIDEM 2000 de Cannes ikut menambah popularitas kota kecil di tepi Laut Mediterania ini, setelah tentu saja Festival Film Cannes setiap tahun yang sudah mendunia itu. Konsekuensi berikut dari acara internasional semacam ini, semua barang di Cannes melonjak harganya.

Sekadar contoh, ongkos menginap di sebuah hotel melati kelas tiga yang lebih mirip losmen atau rumah susun di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pihak pengelola hotel mengutip tak kurang dari 200 franc per hari yang dengan nilai kurs satu franc = Rp 1.200 berarti lebih Rp 240.000. Ongkos lebih besar misalnya Hotel Martinez yang berbintang empat dengan harga kamar per hari 1.200 franc atau Rp 1,5 juta. Untuk bisa minum Coca Cola atau air mineral, orang harus mengeluarkan lebih kurang Rp 25.000.

Jangan tanya ongkos transportasi. Ongkos taksi dari hotel tempat menginap sampai di Palais des Festival yang lokasinya tak lebih dari 10 km, ongkos sedikitnya 70 franc atau Rp 84.000.Yang membuat semua menjadi terasa lebih "ringan" adalah karena semua orang di sini tiba-tiba suka bicara tentang MIDEM 2000. Entah di gang-gang sempit yang tersebar di pinggiran Jalan la Croisette atau di kafe-kafe yang berderet di sepanjang jalan utama di Kota Cannes ini.

Intinya, MIDEM 2000 de Cannes inilah yang membuat wajah kota kecil yang sehari-hari lebih banyak "diramaikan" oleh para pensiunan dan kaum muda jatuh cinta itu, menjadi lebih semarak. Suasana semarak itu sudah terasa sejak mendarat di Bandara Internasional Nice yang lokasinya sekitar 30 km dari pusat kota atau sekitar 20 menit perjalanan naik taksi. Baliho dan poster-poster ukuran raksasa penuh warna-warni bertuliskan "MIDEM 2000" bertaburandi setiap penjuru. Begitu pula di pinggiran jalan dari dan menuju Bandara Nice-Cannes. Namun, kesemarakan ini pulalah yang harus dibayar mahal oleh mereka yang berkantung pas-pasan.
(Mathias Hariyadi, dari Cannes, Perancis)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Friday 4 February 2000

Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Di Cannes, Semua Serba Uang
KOMPAS - Jumat, 04 Feb 2000 Halaman: 8
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 2902

Wednesday, 14 May 2008

Christine Hakim, Manusia Tidur Kohei Oguri 小栗康平

Kohei Oguri, Jati Diri Jepang

DENGAN membuat film, sutradara Kohei Oguri (54) asal Jepang bisa "menemukan" kembali elan vital (jiwa utama) dan jati diri bangsanya, yakni etos semangat mengakrabi alam.

Selama kurang lebih satu dasawarsa, Kohei Oguri mengupayakan itu tanpa banyak publikasi. Hasilnya mencengangkan, seperti terlihat dari berbagai reaksi publik Jakarta usai menyaksikan Nemuru Otoko (Manusia Tidur), salah satu judul filmnya. Banyak orang bingung memahami "alur" logika pemikiran Oguri dalam film ini, namun karyanya ini punya "sesuatu" untuk diperbincangkan.

Selain menampilkan para bintang terkenal dari beberapa negara seperti Christine Hakim dari Indonesia dan Ahn Sung-ki asal Korea Selatan, temanya juga tak biasa. Film ini menggambarkan sikap tradisional masyarakat Jepang menghadapi alam, kehidupan, dan kematian. Modernisasi Jepang pasca-Perang Dunia II memang telah mengantar bangsa ini pada kemajuan ekonomi luar biasa, namun "korban"-nya besar, yakni bangsa Jepang kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat pencinta alam. Fokus tema inilah yang membuat film ini menjadi semacam "dobrakan" yang membuat banyak orang Jepang tersadarkan kembali akan jati dirinya.

Beredar resmi di Jepang awal tahun 1996, film ini lalu menjadi semacam icon yang belakangan ikut melahirkan genre baru dalam industri perfilman Jepang. Film ini dianggap telah melahirkan semangat baru di antara para sineas muda Jepang, untuk menggarap film sejenis dengan sentuhan etos semangat mengakrabi alam sebagai satu ciri bangsa Jepang. Lainnya, membuat film dengan "napas" semangat baru, yakni tak melulu atas dasar pertimbangan komersial semata.

Semula, Nemuru Otoko banyak dikecam karena alur "logika"-nya susah dipahami. Namun, film ini mendapat reputasi nasional dan belakangan internasional, serta mengalami masa putar begitu panjang di banyak kota di seluruh kawasan Jepang.

"Di Tokyo saja, Nemuru Otoko diputar lebih dari enam bulan sejak mulai diedarkan. Kurun waktu lebih lama lagi berulang, ketika film ini kemudian diputar di kawasan lain di luar ibu kota," jelas pria kalem ini pada wawancara khusus dengan Kompas beberapa jam sebelum bertolak kembali ke Tokyo, usai menghadiri hajatan Jakarta International Film Festival (JifFest) di Jakarta akhir November 1999
lalu.
Apa yang terjadi di Jepang juga terjadi di Jakarta, ketika Nemuru Otoko diputar sebagai acara penutup pada JifFest. Kesan penonton pada dua kali pertunjukan serupa; filmnya susah "dicerna". Dalam konferensi pers di Pusat Kebudayaan Jepang Oguri mengatakan bahwa dia menerima kesan dan penilaian itu. Katanya, "Saya amat mengerti itu. Bangsa Jepang yang tahu bahasanya dan paham setting sosial film ini pun telah mengalami hal serupa."

Christine Hakim, bintang utamanya, tak menampik kesan umum itu. Komentar itu, katanya, sudah teramat lazim ia terima dan dengar.

Menurut Oguri yang dibenarkan Christine Hakim, film ini tidak "dibangun" berdasarkan urut-urutan satu adegan dengan adegan lainnya. Alur "logika" film ini juga tak dibangun berdasarkan logika percakapan atau dialog. Ia merekatkan satu adegan dengan adegan lain menurut logika "semangat dasar" bangsa Jepang yang mencintai alam semesta. Katanya, para pemirsa film ini akan kecewa kalau terlalu mengharap sebuah "benang merah" yang gamblang.
***
LAHIR di Maebashi, Prefekorat Gunma, 29 Oktober 1945, awal perkenalan Oguri dengan dunia film terjadi sejak ia menyaksikan sebuah film Polandia, dengan bintang Anje Waida, yang diputar tahun 1962 di Jepang. Sebelumnya dan tahun-tahun pertama sekolah di SD hingga SMU, Oguri mengaku tidak pernah dan tahu apa itu film. Katanya, gara-gara tema film yang bicara soal sejarah politik Polandia itu, ia lalu jatuh cinta dengan film.

"Sejak itulah saya mulai meyakini, film adalah media paling efektif untuk menggambarkan dunia dan realitas batin manusia. Dibandingkan puisi dan lukisan, film jauh lebih hidup sekaligusmengungkapkan fakta lebih intens," tutur pria yang kini bapak tiga orang anak dan suami Ny Eiko Oguri ini.

Pengalaman inilah yang mengantar Oguri belajar seni teater di Universitas Waseda, Tokyo. Selama masa kuliah, ia mulai belajar tentang film dan sesekali menjadi asisten sutradara pada film-film garapan sutradara Masahiro Shinoda dan Kiriro Urayama. Selesai kuliah, Oguri lalu memutuskan terjun sepenuhnya ke dunia film meski sesekali gemar melukis, menulis puisi, dan bermain teater.

Film pertamanya, Muddy River (1981), yang diolah berdasarkan hasil adaptasi novel karangan Teru Miyamoto, berhasil menyabet berbagai penghargaan. Selain dinobatkan sebagai Film Terbaik Jepang versi majalah Kinema-Junpo, film itu juga menyabet Blue Ribbon Best Film Award dan juara kedua saat berlangsung International Film Festival di Moskwa.

Sukses itu berlanjut dengan For Kayako, filmnya kedua garapan tahun 1984 yang berhasil menyabet Georges Sadoul Award. Sementara filmnya ketiga, Sting of Death, meraih dua penghargaan bergengsi di Festival Film Cannes (Perancis), yakni Le Grand Prix 1990 danInternational Critics Prize. Sejak inilah, nama Oguri meroket dan namanya mulai diperbincangkan di kalangan para sineas dunia. Tahun 1993, ia sempat menggarap Correspondence by Film berkolaborasi dengan Slamet Rahardjo Djarot untuk program televisi NHK Jepang. Nemuru Otokoadalah filmnya yang keempat sekaligus paling kontroversial.

Namun di luar semua kontroversi itu, ternyata justru lewat Nemuru Otoko ini Oguri secara tak langsung ikut berperan "menyadarkan" bangsa Jepang akan jati dirinya sebagai bangsa pencinta alam semesta. Satu semangat ini, jelasnya, yang kini kian ditinggalkan orang Jepang akibat derasnya pengaruh atmosfer budaya modern dan masyarakat teknokratik.

***
MENURUT Oguri, pada era teknologi modern ini peradaban manusia makin dikuasai sebagian atau seluruhnya "tunduk" pada "logika" teknologi. Mentalitas teknokratik akan lahir dari "peradaban" teknologi ini, ketika manusia makin dikuasai teknik dan terkurung dalam sistem metode hasil kreasinya sendiri. Fenomena ini bisa "mengacaukan" hubungan-hubungan sejati antarmanusia di satu sisi, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan alam semesta di
sisi lain.

Pemikiran inilah yang "melahirkan" Nemuru Otoko, yang kata Christine, merupakan cerminan refleksi Oguri atas fenomena "terperangkapnya" masyarakat modern Jepang oleh budaya dan mentalitas teknokratik. Karena itu, upaya mencerna dan memahami "isi" Nemuru Otoko dengan alur "logika" tak biasa itu, harus didasarkan pada perspektif mana yang dipakai Oguri ketika menggarap film ini. Soalnya, tak semua film bisa "dicerna" maksud, tema, dan keindahannya, hanya melulu dengan pendekatan rasio semata. Perspektif sudut pandang human interest justru sering kali bisa membantu kita memahami isi dan bentuk film secara utuh, integral, dan juga benar.

Ini perlu, ketika peradaban teknologi telah "meringkus" manusia dalam tata nilai tertentu, yang secara sistematik mempengaruhi cara pikirnya mempersepsi sesuatu, termasuk film. Berbagai "konstruksi nilai" inilah yang perlu kita bongkar saat "membedah" Nemuru Otoko, yang oleh Oguri dipersepsikan menjadi sebuah film surealis tentang hubungan intens antara manusia dengan alam semesta. (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, 18 January 2000
Interviewed at Soekarno-Hatta Airport Hotel
Almost before midnight
Indonesia's noted actress Christine Hakim joined the session.

Photo credit: Kompas/Mathias Hariyadi
Kohei Oguri
Sources: Data base klipping MATHIAS HARIYADI
222.124.79.135
Kohei Oguri, Jati Diri Jepang * Box
KOMPAS - Selasa, 18 Jan 2000 Halaman: 12
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 7617
KOHEI OGURI, JATI DIRI JEPANG

Tuesday, 13 May 2008

Jazz for All People

Ceria Bersama Jazz Merah Putih

JAZZ adalah magnet. Begitu saksofon ditiup Bill Saragih, gitar dipetik Ireng Maulana, dan tembang Route 66 dilantunkan, kontan orang hanyut dalam suasana ceria. Ketika pentas musik jazz bernuansa ceria ini terjadi di sebuah ruang terbuka yang luas, maka goyangan tubuh disertai pekikan antusias penonton langsung membahana ke sudut-sudut Tamansari-tempat digelarnya Jazz Merah Putih '99.

Yang pasti, acara tiga malam pentas Jazz Merah Putih '99 di kompleks Lippo Karawaci, Tangerang (Jawa Barat) yang berakhir tadi malam ini berlangsung sangat semarak. Tak hanya karena di situ ada Ireng Maulana, Bill Saragih, Margie Segers, Ermy Kulit, Dewa Budjana, Tohpati, Kiboud Maulana, dan Embong Rahardjo. Lebih dari itu, penampilan para penyanyi dan musisi jazz yang sudah kondang itu juga berhasil menggelorakan antusiasme dan keceriaan di tengah ratusan penonton yang ingin menikmati menu utama acara; sebuah parade keceriaan jazz.

Penampilan Margie Segers saat membawakan Come with Me Now! -tembang jazz populer-nya Tania Maria- di lantai dasar Supermal Karawaci, Sabtu (28/8) malam lalu adalah satu contohnya. Yakni, ketika jazz secara sadar dipersepsikan sebagai satu jenis musik yang paling fleksibel sekaligus melahirkan suasan ceria di telinga pendengarnya. Begitulah jazz yang enak terdengar di telinga, meski mulut tengah asyik mengunyah siomay. Atau betapa nikmatnya mendengarkan jazz sambil ngobrol santai di bawah tenda-tenda parasol sembari mulut tanpa henti mengunyah kacang goreng.

Tak ada suasana serius sepanjang pentas Jazz Merah Putih '99 yang dikoordinir oleh Ireng Maulana Associates dan manajemen Lippo Karawaci pimpinan Yopie Rusli (37) ini. Dibanding pentas musik klasik yang serba serius dan pop yang serba wuah, pentas Jazz Merah Putih '99 ini
justru melahirkan suasana rileks dan bersahabat. Bill Saragih menyanyi sambil sesekali meneguk air mineral. Sementara Ireng Maulana nimbrung begitu saja agar bisa ber-jamz session dengan Bill Saragih & His Juniors.
***
YANG menarik, jarak agaknya tak terlalu menjadi persoalan bagi pecinta jazz. Meski kawasan Lippo Karawaci berjarak tak kurang 40 km dari jantung Kota Jakarta, hajatan jazz ini nyaris tak pernah sepi penonton. "Kalau tak suka jazz, bagaimana mungkin saya mau pergi jauh-jauh ke sini?" ungkap Halim Shahab, pengusaha swasta yang Jumat lalu tampak memboyong anak-istrinya menyaksikan pentas ini.

Panggung sederhana di satu sudut Tamansari dibangun untuk para pengisi acara. Di tengah arsitektur bergaya amphitheatrum Romawi kuno ini, panggung utama di Tamansari itu tak terlalu menjadi pusat dari seluruh perhatian publik. Satu panggung lebih kecil lain dibangun di lokasi lain.

Selain suasana ceria, atmosfer guyub dan iklim kekeluargaan ikut mendominasi pentas Jazz Merah Putih '99 ini. Maka di tengah alunan jreng...jreng... gitar Kiboud Maulana, publik bisa dengan mudah memekikkan keceriaannya memuji penampilan penyanyi gaek Iskandar saat melantunkan Still Got the Blues. Begitu pula para penonton muda-mudi yang berpacaran, sembari menikmati petikan duet gitar Budjana dan Tohpati.

Celotehan dan komentar akrab sekalian pecinta jazz jadi warna sendiri dalam Jazz Merah Putih '99 ini. Ketika Margie Segers di atas pentas, seorang penonton mengajukan request agar mendendangkan Come with Me Now!-nya Tania Maria. Margie pun menyambut cerita. Itulah Jazz Merah Putih '99. (Mathias Hariyadi)


"BLUES" - Penyanyi Iskandar dan Kiboud Maulana dalam Jazz Merah Putih '99 yang berlangsung Jumat-Minggu (27-29 Agustus) di Lippo Karawaci, Tangerang, Jabar. Tembang Still Got the Blues yang mengalir dari panggung menghangatkan suasana.


Photo credit and caption: Kompas/Mathias Hariyadi
Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Monday 30 August 1999

Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Ceria Bersama Jazz Merah Putih '99
KOMPAS - Senin, 30 Aug 1999 Halaman: 25
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 3870