Monday, 12 May 2008

Agus Anjing, Dokter Tukang Loak

Dokter dan Tukang Loak Sama-sama Profesional

PROFESINYA sungguh tak sebagus namanya.

Agus Anjing. Demikian pria berambut gimbal dan lumayan gondrong itu biasa dipanggil sehari-hari. Terutama bila dia tengah berada di kalangan para bikers, sebutan populer bagi para penikmat motor klasik. Ajang otobursa Tumplek Bleg selama dua hari di Lapangan Parkir Senayan 10-11 Mei lalu telah membuktikan pamor seorang Agus Anjing.

Itulah yang terlihat, ketika sebutan “anjing” selalu saja diteriakkan orang setiap kali ingin menyapa pria ramah berkacamata tebal ini. Begitu pun disapa dengan sebutan panggilan akrab “Agus anjing” sungguh tak membuat pria Jawa yang besar di Jakarta ini lantas tersinggung dan marah.

Sebaliknya, dia malah mengaku bangga dan –seperti diungkapkannya sendiri— “Saya kian merasa akrab tengah berada di lingkungan sendiri.”

Le pacte des loups? Persekutuan di antara para anjing/serigala? Tentu bukan.Namun dengarlah isi hati Agus Anjing sendiri. “Saya bangga dipanggil Agus Anjing,” jawabnya pendek.

Pengakuan Agus Anjing ini jelas tak mengada-ngada. Bagi dia, disebut atau dipanggil orang dengan tambahan kata “Anjing” jauh dari kesan norak atau berbau penghinaan. Bagi pria Jawa yang lahir dan besar di Jakarta ini, sebutan itu malah menerbitkan pamor tersendiri. Dan sebagai nama panggilan, sebutan “Agus Anjing” telah menjadi sebuah identitas baru yang ikut melambungkan namanya sebagai dokter di kalangan pecinta binatang dan kolektor sekaligus tukang loak di kalangan bikers.

Agus Anjing adalah dua entitas yang berseberangan namun mendamaikan hati seorang bapak dua anak yang bernama Agus, seorang dokter hewan yang sesekali waktu menekuni profesi baru sebagai pedagang loak. Di forum Tumplek Bleg, Agus menampilkan sisi eksentriknya sebagai tukang loak: tampil cenderung urakan, bebas, dan selalu topless alias bertelajang dada sebagai kostum resminya.
***
Menjalani job sebagai seorang dokter hewan dan pedagang loak tentu merupakan dua buah domain kerja yang sangat berlainan. Menjalani profesi kerja sebagai dokter pada umumnya –termasuk tentu saja seorang veterinian-- cenderung berpola tertib. Dokter bekerja atas dasar sistem kerja yang sudah terpola sesuai standard operating procedure profesi seorang tenaga medik profesional. Ada sederet kode etik yang harus dipatuhi dan tak boleh dilanggar.

Tentu akan lain jadi “menu hariannya”, ketika Agus Anjing mengisi hari senggangnya dengan bermain motor klasik. Ini adalah kesempatan istimewa dimana seluruh atribut “resmi” sebagai dokter boleh dibiarkan “menguap” sementara.

Nah, itulah nikmatnya kehidupan Agus Anjing, ketika dia mampu “mendamaikan” prinsip filosofis Yin dan Yang dalam keseharian sebagai dokter hewan dan penikmat motor klasik. Dan forum otobursa Tumplek Bleg telah memberi peluang bagus bagi drh Agus Anjing untuk mempraktikkan filosofi Yin dan Yang itu dalam kehidupan riil.

“Saya tak mungkin bisa begini (baca: bertelanjang dada) di klinik hewan, ketika ada tamu datang bersama hewan peliharaannya,” ujarnya serius. “Bisa-bisa, klien saya kabur dan ‘pasien’ (anjing piaraannya) lalu menggigit saya,” katanya terbahak.

Nah, di forum Tumplek Bleg Kelompok Otomotif Gramedia Grup itulah drh Agus Anjing bisa “menanggalkan” profesinya sebagai dokter hewan untuk berperan menekuni profesi lain sebagai pedagang loak benda-benda motor klasik.

“Ini adalah persoalan keseimbangan hidup. Satunya, pola hidup sangat tertib dan formal. Lainnya, hidup serba spontan, informal dan –sembari mengutip slogan sebuah iklan rokok— bisa membuat hidup ini semakin tambah hidup,” tandas alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syah Kuala di Banda Aceh ini.

“Tapi kedua profesi itu sama-sama juga mendatangkan fulus,” katanya mantab. “Hanya saja kegiatan mencari nafkah itu berlangsung di ranah kehidupan yang sangat berlainan. Baik sistem cara kerjanya maupun pola hubungan relasional antara saya sebagai tukang loak barang-barang antik motor klasik dan sebagai tenaga profesional ruang klinik hewan menghadapi tamu berikut ‘pasien’ saya alias anjing-anjing peliharaan mereka,” terangnya kemudian.

Sama-sama kerja menghasilkan uang, namun tingkat kepuasannya berbeda. “Sebagai dokter, saya layak dan sepantasnya menerima jasa layanan pemeriksaan hewan. Sebagai tukang loak, saya tak sekedar bisa meraup untung –tak jarang hanya menerima satu-dua ribu—tapi juga mendapat banyak teman baru,” papar drh Agus.

Karena bekerja di dua ranah kehidupan itulah, pria eksentrik ini lantas dikenal luas dengan nama panggilan pop: Agus Anjing.

***
Baru empat tahun menekuni “profesi” sebagai tukang loak, drh Agus Anjing mengaku mendapatkan apa yang selama ini dia tak bisa raih: keseimbangan hidup. Sebagai dokter hewan yang mengelola sebuah klinik hewan, bisa hidup dalam keadaan cukup bukanlah merupakan “jalan panjang” baginya.

Itulah sebabnya, tak hanya anjing berbagai ras ikut menjadi penghuni rumahnya di bilangan Cengkareng. Di situ, tak kurang 25 jenis motor klasik ikut menghiasi ruangan rumahnya. Selepas meninggalkan baju praktik, bisa bercengkerama dengan “kuda-kuda besi” itu tak ayal bisa mendatangkan kenikmatan batin tersendiri.

Belakangan ketika “museum” kuda besinya itu membutuhkan onderdil, maka drh Agus Anjing pun terpacu semangatnya untuk melakukan perburuan alias hunting mencari pasokan spare-parts ke seantero Nusantara. “Pokoknya, puas kalau bisa mendapatkan item yang kita butuhkan, sekedar buat kuda-kuda besi itu bisa berlari lagi,” katanya mengisahkan perjalanannya hunting onderdil.

Di situlah, drh Agus lalu menemukan peluang baru untuk memuaskan dahaganya: belanja dan belanja. “Itu tak mesti berarti negatif: gaya konsumptif loh,” katanya mengingatkan.

Belanja barang dia identikkan sebagai proses pencarian diri. Yakni, mencari keseimbangan hidup sebagaimana terukir sebagai mutiara Filsafat Timur: prinsip Yin dan Yang dalam keseharian hidup. Jadinya, kulakan mencari barang-barang loak tak perlu jadi beban bagi drh Agus. Sebaliknya, “Pekerjaan ini penuh fun,” terangnya.

Dari yang kegiatan full of fun itulah, drh Agus lantas menikmati pekerjaannya sebagai tukang loak barang-barang motor klasik. Dan kalau dari kejauhan ada kenalan lama berteriak lantang, “Agus Anjing!” memanggil namanya, yang tersungging di bibir drh Agus bukanlah gurat kemarahan, melainkan senyum lebar.

Itulah momen menggembirakan, ketika profesi dokter boleh “ditanggalkan” untuk memberi kesempatan bagi drh Agus Anjing mengibarkan namanya sebagai tukang loak onderdil motor klasik. (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published for Mytitch
Live reporting from Tumplek Bleg, Senayan 10-11 May 2008
Photo credits: Mathias Hariyadi

Celine Dion, la P'tite Quebecoise


Celine Dion, Totalitas Hidup untuk Musik

SUKSES besar film Titanic arahan sutradara kelahiran Kanada, James Cameron (44), rupanya ikut mendongkrak pula ketenaran penyanyi senegaranya, Celine Dion (30). Selaris filmnya, tembang My Heart Will Go On yang menjadi theme song pun ikut berkumandang di seluruh dunia dan semakin mengorbitkan Celine sebagai seorang penyanyi dengan reputasi internasional.

Bila Titanic merupakan film terlaris dan termahal sepanjang sejarah (biaya pembuatannya mencapai 200 juta dollar AS), maka My Heart Will Go On pun boleh dikata merupakan salah satu lagu terlaris di dunia saat ini. Setidaknya dalam puncak tangga lagu-lagu pop Top Album di Inggris 15 Maret dan Top 20 Singles di Selandia Baru pada kurun waktu yang sama bisa mengilustrasikan, betapa penyanyi berpostur lencir (kurus dan tinggi) 171 cm itu berhasil merebut hati milyaran penggemar di seluruh dunia. Hal sama juga terjadi di Malaysia dan Filipina yang menempatkan tembang ciptaan James Horner itu di puncak tangga lagu-lagu top selama beberapa pekan.

Keberhasilan My Heart Will Go On di pasaran semakin melengkapi daftar sukses Celine. Jauh sebelumnya, masyarakat penggemar musik di seluruh dunia juga terbuai, ketika la P'tite Quebecoise (Si Mungil dari Quebec) --nama akrab Celine di Kanada dan Perancis-- melantunkan theme song lain, yakni Beauty and the Beast (duet dengan Peabo Bryson, 1991), When I Fall in Love (dengan Clive Griffin dalam Sleeples in Seatle, 1993), Because You Loved Me (dalam Up Close & Personal, 1996), dan I Finally Found Someone yang ia duetkan bersama Barbra Streisand (55) dalam The Mirror Has Two Faces.

Sukses sama juga berlanjut dengan tembang Tell Him (1997) yang ia lantunkan bersama Streisand. Sebenarnya Celine pun pernah merebut hati masyarakat dunia ketika melantunkan tembang The Power of A Dream yang menjadi theme song saat pembukaan Olimpiade Atlanta di AS, Juli 1996. Pendek kata, ia termasuk seorang penyanyi laris untuk kategori penyanyi khusus theme song.
***
JALAN panjang menuju sukses dalam dunia musik adalah rona-rona hidup Celine. Rasa cinta mendalamnya pada musik tak bisa dipisahkan dari lingkungan keluarga, pasangan Adhemar-Therese Tanguay Dion. Sejak umur lima tahun, la P'tite Quebecoise sudah sering tampil menyanyi di hadapan para tamu restoran Le vieux baril (Tong Tua) milik orangtuanya. Sementara Adhemar memainkan akordeon, dan ibunya memegang biola, maka Celine yang merupakan anak ke-14 dalam keluarga pecinta dan pemain musik itu memamerkan kebolehan vokalnya sembari kadang-kadang main piano.

Nasib baik tak jarang datang tiba-tiba. Itu juga dialami Celine. Ketika umur 5,5 tahun, ia memukau publik dengan lantunan tembang Ginette Reno Du fil, des aiguilles et du coton (Benang, Jarum, dan Kain Katun) pada perkawinan kakaknya Michael (belakangan menjadi manajer tur promosi album-albumnya--Red.) di Quebec, Kanada, 18 Agustus 1973. Pertunjukan amatiran itu jadi pembicaraan umum. Namun Celine baru diperhitungkan para pengamat musik setelah rekaman lagunya Ce n'etait qu'un reve (Itu Hanya Sebuah Mimpi) ciptaan ibunya berhasil membuat impresario Quebec terkenal saat itu, Rene Angelil, terbuai oleh kemampuan dan kualitas vokalnya.

Itulah hit Celine pertama dalam debutnya sebagai penyanyi pada umur 12 tahun. "Sejak mendengar suaranya dalam tembang itu, saya yakin sepenuhnya, Celine punya masa depan cerah di dunia industri musik," tutur Rene Angelil (56) kepada Time 28 Februari 1994 mengenang pengalamannya "bertemu" Celine.

Pertemuan Celine dengan Angelil yang belakangan menjadi pembimbing sekaligus manajernya ternyata membuka jalan lapang baginya menuju sukses-sukses berikutnya. Meski tak pernah menyelesaikan sekolah menengahnya karena nekad drop out pada umur 15 tahun, ia menoreh sukses besar di bidang musik yang katanya menjadi darah dagingnya. "Sekolah mengasingkan aku dari musik dan menjauhkan dari perasaan senang. Pelajaran-pelajaran di sekolah membuatku gamang dalam mencapai cita-cita dan impianku bisa menjadi seorang penyanyi profesional. Aku tak suka sekolah," katanya saat meninggalkan bangku sekolah menengah.

Pertemuannya dengan Angelil tak langsung mengantar Celine ke tangga ketenaran di blantika percaturan komunitas musik dunia. Meski Celine tak langsung bisa menembus jagad pecinta musik di kawasan Inggris dan AS --lambang supremasi musik dunia-- namun albumnya berbahasa Perancis sukses di kawasan francophone (negara-negara berbahasa Perancis). La voix du bon Dieu (Suara Tuhan) garapan komponis Perancis Eddy Marnay (yang mengorbitkan Nana Mouskori, Yves Montand--Red.), Celine chante Noel (Celine Menyanyi Lagu-lagu Natal), Des mots qui sonnent (Untaian Kata-kata yang Bernyanyi, 1991), dan Tellement que j'ai d'amour! (Betapa Besarnya Cintaku!) sama sekali tak bisa dikatakan jeblok di negara-negara francophone.

Berkat album terakhir, Celine yang bermata coklat berhasil meraih medali emas dalam World Popular Song Festival di Tokyo, Oktober 1982. Sebagai wakil Perancis, Celine mampu menyisihkan 1907 pesaing dan menggeser 30 finalis. Sukses itu berlanjut dengan album D'amour ou d'amitie (Cinta atau Persahabatan) yang memukau 3.500 pelaku bisnis musik pada MIDEM (Marche internationale du disque et de l'edition musicale, pertemuan internasional yang membahas pemasaran kaset dan disk musik--Red.) di Monaco. Berikutnya, album Du Soleil au Coeur (Matahari dalam Hati). Namun nama Celine baru diperbincangkan masyarakat pecinta musik dunia, setelah single-nya Where Does My Heart Beat Now? (1990) menjadi hit dan menduduki puncak tangga lagu-lagu pop di seluruh dunia. Jalan mulus menuju sukses baru terbuka lebar, setelah penggemar parfum Channel 5 kelahiran Charlemagne, Quebec, 30 Maret
1968 berduet dengan Peabo Bryson mengisi theme song film animasi Beauty and the Beast. Tak disangka-sangka, lagu yang berjudul sama itu berhasil menyabet piala Grammy Award 1994.
***
ETOS kerja keras adalah kunci sukses Celine yang sejak kecil hingga dewasa hanya tahu dan bisa berbahasa Perancis. Agar bisa "mendunia", kata Angelil, tak bisa lain kecuali Celine harus belajar bahasa Inggris. Pada umur 25 tahun, layaknya seorang pemula, tanpa rasa malu ia mengikuti kursus bahasa di Berlitz, Kanada. Musisi sekaligus arranger David Foster sampai memuji keseriusan Celine belajar bahasa asing ini. Singkat kata, dari belajar serius Inggris inilah lahir album The Power of Love yang bertahan selama beberapa pekan di puncak tangga lagu-lagu pop di AS, Inggris, dan Kanada. Album The Colour of My Love mengikuti jejak sebelumnya.

Meski menyanyikan lagu-lagu Inggris, sambutan masyarakat francophone terhadap Celine tetap meriah. Padahal, baik Celine maupun Angelil sempat dihantui ketakutan kalau masyarakat Quebec akan menyerbu dan membakar rumahnya karena menganggap mereka telah "menyeberang". "Rasanya bak sebuah mimpi," kenangnya kepada Time. "Banyak orang berpikir, para penggemarnya di negara-negara francophone akan meninggalkan Celine setelah menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris," tandas Angelil menimpali pendapat istrinya. Tak kurang, koran Kanada La Presse sempat menjuluki Celine sebagai "dewi baru" Kanada di bidang musik.

Celine tak hanya sukses di dunia musik. Dalam membina bahtera perkawinan pun, penyanyi peraih berbagai penghargaaan internasional sedikitnya 12 kali dalam berbagai kategori itu-- juga berhasil. Meski menikah dengan pria kulit hitam yang usianya terpaut 26 tahun lebih tua, namun Celine jujur mengakui Angelil tak ada duanya. "Rene, selama beberapa tahun lamanya, aku telah menyembunyikan perasaanku di lubuk hati terdalam. Namun, rasanya kini sudah tak
terbendung lagi untuk terus menahannya dan segera mengungkapkan itu kepadamu," katanya kepada Time akhir 1997 saat dipersunting Angelil di Quebec, Desember 1994 yang disebutnya The Colour of My Love.

"Aku lebih sekadar jatuh cinta dengan Rene Angelil. Dalam banyak hal ia telah melengkapi aku," jelas pengaggum Stevie Wonder, dan Beatles yang berhasil menelorkan sejumlah single bersama Barbra Steisand, Bee Gees (single-nya Immortality), Carole King (The Reason yang digarap bersama Sir George Martin), dan Lucianno Pavarotti (62) dengan tembang Never, Never, Never!.

"Saya senantiasa merasa kagum pada orang-orang lebih tua. Mereka lebih berpengalaman dalam banyak hal," tandas artis yang pernah tampil gemilang dalam sebuah sinetron mini produksi patungan Perancis-Kanada Des fleurs sur la neige (Bunga-bunga Bertebaran di atas Salju, 1994). (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Saturday 21 March 1998

Photo credit: Reuters/Celine Dion
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.57.143
Celine Dion, Totalitas Hidup untuk Musik * Box
KOMPAS - Sabtu, 21 Mar 1998 Halaman: 16
Penulis: HARIYADI, MATHIAS Ukuran: 8887

Sunday, 11 May 2008

Jam Karet Mariah Carey

Mariah Carey Lelet di Cannes

JAM karet alias suka datang telat ternyata bukan hanya sering dilakukan oleh orang Indonesia dan artis-artis dari Tanah Air. Penyanyi kelas internasional pun ternyata sering melakukan hal
itu. Salah satu contohnya adalah penyanyi seksi berdarah campuran Irlandia dan Venezuela, Mariah Carey (30), yang semula dijadwalkan mengadakan jumpa pers dengan wartawan dari seluruh dunia di gedung Palais des Festivals pukul 16.00 waktu Cannes, Perancis, namun barudatang setelah 3,5 jam kemudian.

Padahal dua jam sebelum acara yang telah ditentukan itu, ratusan wartawan foto sudah rela berdiri berjam-jam di sepanjang koridor ruangan Blue Lounge itu agar bisa mendapatkan foto-foto eksklusif penyanyi yang melejit namanya di berbagai wilayah dunia ini.

Peristiwa yang cukup mengecewakan ini terjadi pekan lalu. Faktor keamanan menjadi salah satu alasannya hingga ia terpaksa menunda jadwal konferensi persnya. Buktinya, jauh sebelum bintang dari AS ini turun dari lantai enam Hotel Martinez di Jalan La Croisette 50, Cannes, tempatnya menginap, sudah lebih dulu berkerumun ratusan penduduk lokal untuk mencuri pandang ke penyanyi AS ini. Tak kurang puluhan pengawal pribadi berjaga-jaga di sepanjang ujung koridor hotel dan semua akses menuju lantai enam di hotel mewah tersebut.

"Yang pasti, saya merasa bangga mendapat kehormatan memperoleh penghargaan NRJ Music Awards ini di Cannes, salah satu kota terindah di kawasan Riviera Perancis selatan ini," ujarnya singkat di hadapan pers. (ryi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Reported live from Cannes, France
Published by Kompas, Saturday 5 February 2000

Photo credit: Reuters/Mariah Carey
Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
203.130.222.210
Nama dan Peristiwa: Mariah Carey Suka Datang Telat
KOMPAS - Sabtu, 05 Feb 2000 Halaman: 12
Penulis: RYI Ukuran: 1604
NAMA DAN PERISTIWA

Menjaga Lestarinya Kalimantan

ProLH Kalimantan dan Proses Pembangunan

WAJAH Sadhuarjono menampakkan keceriaan sekaligus kekecewaan. Iagembira, karena desanya akan mendapat kunjungan "orang-orang penting" dari pusat, yakni rombongan Komisi X DPR RI, peserta kursus Lemhanas, dan tim ProLH Kalimantan. Sedangkan yang menjadi pemicu kekecewaannya adalah kedatangan tim ProLH Kalimantan yang selain tidak sesuai dengan jadwal, juga telah mengacaukan persiapan yang ada.

Barangkali karena hal itulah, rombongan ProLH Kalimantan terdiri dari Atase Pers Kedubes Jerman di Jakarta dan beberapa wakil ProLH Kalimantan - sempat "ditahan" di pintu gerbang masuk desa. Di situSadhu tanpa ba-bi-bu memuntahkan kekecewaannya. Tapi entah kenapa, "penolakan" Sadhu berubah menjadi sambutan hangat, begitu tahu ada tiga wartawan ibu kota ikut menyertai kunjungan tim ProLH Kalimantan itu ke desanya, Bangkal, Kecamatan Danau Sembulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalsel.

Barangkali karena kepentingan ingin menyampaikan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai desanya itulah Sadhu - yang kini menjadi Lurah desa Bangkal itu - lalu berubah menjadi ramah kepada tamunya. Maklum, isu menjaga kelestarian lingkungan kini menjadi perbincangan hangat di kalangan para pejabat, setidaknya di wilayah Kotim.

Tak heran pula, kalau Sadhu ingin mempublikasikan ke luar kenyataan bahwa kesadaran warga tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan semakin terbina. Apalagi yang dihadapinya kini adalah tim ProLH Kalimantan, yang selama ini menjadi sponsor utama program penyadaran kelestarian lingkungan. Di sini cerita keberhasilan menjadi amat penting.
***
DESA Bangkal terletak di tepi Danau Sembulu, kurang lebih 76 km dari Sampit, ibu kota Kabupaten Dati II Kotawarigin Timur. Meski bisa dibilang sangat udik - karena jauh dari pusat kota dan terletak jauh di pelosok pedalaman - Desa Bangkal populer di kalangan masyarakatKotim. Selain keindahan panorama alamnya saat menjelang matahari terbenam di batas ufuk Danau Sembulu, Desa Bangkal juga dikenal sebagai semacam "pelabuhan" tempat diselenggarakannya lelang ikan. Dari danau Sembululah kebutuhan konsumsi ikan bagi seluruh warga Kotim
dipenuhi.

Desa Bangkal termasuk salah satu sasaran proyek penyadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang kini dilakukan ProLH Kalimantan. Proyek ini lahir dari kerja sama teknis bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federal Jerman yang tujuannya mengembangkan sumber daya manusia dan kelembagaan dalam bidang lingkungan hidup.

Proyek yang bernilai sekitar 8,7 juta DM ini dilaksanakan melaluiKantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Pemerintah Indonesia dan badan kerja sama teknis Republik Federal Jerman atau GTZ (Deutsche Gessellschaft fuer Technische Zusammen-arbeit). Berlangsung sejakbulan April 1991 di seluruh propinsi di Kalimantan, ProLH kini telah melibatkan 115 tenaga ahli dari kedua negara.

Pada setiap kegiatannya, ProLH selalu melibatkan tiga pihak, yakni pemerintah (sebagai instansi pembuat keputusan dan yang melakukan pengawasan terhadap masalah-masalah lingkungan hidup), pengusaha swasta (sebagai pelaksana kegiatan yang berhubungan langsung denganLH), dan LSM yang bertindak sebagai perantara hubungan pemerintah-swasta. Sebagai proyek pengembangan kelembagaan dan SDM dalam bidang LH, ProLH Kalimantan selalu berjalan melalui sejumlah tahap.

Tahap pertama (1991-1994), proyek dilaksanakan dengan memberi fokus perhatian pada penyelenggaraan pelatihan pengelolaan LH bagi 79 orang utusan ketiga instansi (pemerintah, swasta, dan LSM) dari seluruh Kalimantan. Tahap kedua (1994-1997) memfokuskan diri padapengembangan kelembagaan LH serta melakukan praktek uji coba sebuah sistem baru dalam pengelolaan LH yakni SEMS (spatial environmental management system, sistem pengelolaan LH wilayah).

Ada kesamaan antara ProLH fase pertama dan kedua, yakni keduanya ingin merintis sesuatu. Yang pertama telah berusaha merintis pembangunan SDM dan sistem dalam manajemen LH, sedangkan yang kedua berupaya menumbuhkan kapasitas masyarakat dalam melakukan analisis mengenai dampak lingkungan regional.

Pada tahap kedua ini, ProLH ingin menepis anggapan salah bahwa masalah LH merupakan urusan MenLH dan Bapedal. Masalah lingkungan hidup adalah masalah umat manusia, masalah kita semua. Sekali kita berbuat salah dalam pengelolaan lingkungan hidup, maka implikasipraktisnya akan mengenai seluruh keturunan kita.

Tak heran pada setiap kesempatan bertemu dengan para pejabat pemerintah di Propinsi Kalsel dan Kalteng, Atase Pers Kedubes Jerman di Jakarta Dieter Lamle menegaskan, LH adalah masalah global yang tidak membutuhkan visa atau mengenal batas-batas regional. "Tekad besar untuk membicarakan secara terbuka dan ilmiah tentang setiap masalah LH merupakan bentuk konkret tanggung jawab kita terhadap generasi kita selanjutnya," kata ayah dari empat anak.
***
MENGAPA Desa Bangkal menarik perhatian ProLH Kalimantan? Menurut Penasihat Pengembangan Kelembagaan LH, yang sekaligus anggota tim GTZ Kantor Palangkaraya Ny Dra Emma Wibowo, pilihan proyek jatuh ke Desa Bangkal, karena desa ini memiliki potensi pariwisata yang layak dijual. Selain keindahan Danau Sembulu yang menyuguhkan keindahan panorama matahari terbenam dan wisata perahu, di desa itu juga banyak ditemukan sandung-sandung, tempat penyimpanan abu jenazah leluhur.

Tegasnya, fokus perhatian ProLH Kalimantan di desa Bangkal tak lain adalah menumbuhkan kesadaran di kalangan warga desa tersebut agar dalam upaya membangun industri pariwisata di Danau Sembulu itu tidak meninggalkan kelestarian lingkungan.

Demi kepentingan kelestarian lingkungan hidup di Danau Sembulu dan upaya "mengamankan" sandung-sandung yang tak ternilai harganya itu, ProLH Kalimantan sangat berkepentingan dengan Desa Bangkal. Juga tak berlebihan pula menyebut demi kepentingan yang sama itu pula Atase Pers Kedubes Jerman Dieter Lamle atas nama Pemerintah Jerman rela mengunjungi desa terpencil yang jauhnya hampir 3,5 jam dari Ibukota Propinsi Kalteng Palangkaraya.

Rupanya yang berkepentingan dengan itu bukan hanya ProLH Kalimantan atau Lurah Sadhuarjono dan tetua adat, tapi juga Bupati Kepala Dati II Kotim Kol Didik Salmijardi. Tak kurang Didik menyebut Danau Sembulu sebagai proyek percontohan pembangunan wisata bahari yang berwawasan lingkungan. "Tekad kami, mempertahankan pembangunan kawasan ini, tetapi tetap berwawasan lingkungan," katanya yakin, saat menerima rombongan ProLH Kalimantan di kantornya, Rabu (24/7).

Didik memang tidak berlebihan. Sejak masih muda, demikian menurut pengakuannya, ia memang telah biasa dididik oleh orangtuanya untuk mencintai ketertiban dan kebersihan. Sejak itulah ia jadi cinta padalingkungan yang bersih. Dan juga tak heran pula kalau sebagai seorang pejabat pun obsesi itu masih hidup menggelora. "Kebersihan adalah pangkal dari segala kedisiplinan. Kalau kita tidak bersih dan rapi, itu petunjuk praktis bahwa kita sendiri tidak bisa disiplin," katanya yakin.

Barangkali karena berlatarbelakang cinta kebersihan dan kedisiplinan itulah, Didik menyambut baik kegiatan ProLH Kalimantan di Desa Bangkal yang menjadi wilayah kekua-saannya. Sekalipun tahu bahwa hasil proyek ProLH Kalimantan di sekitar Danau Sembulu itu tak kasat mata - karena lebih bersentuhan dengan mutu SDM warga setempat semata - Didik tetap menilai, kehadiran ProLH Kalimantan sebagai counterpart yang diandalkan. "Masalahnya bukan terletak pada soal tampak tidaknya hasil program itu. Yang lebih penting dari semua itu tentu saja adalah semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup di sekitarnya," tegasnya.

Justru karena itu, baik tim ProLH maupun Didik tetap berjiwa besar, sekalipun hingga saat ini hasil fisik dari kegiatan proyek itu belum terlalu menampakkan hasilnya. Tapi, lagi-lagi ini soal proyek pembangunan mentalitas orang yang tak pernah kasat mata. "Dan ini lain sama sekali dengan proyek-proyek lainnya yang mementingkan hasil fisik. Ini lebih mementingkan proses," tegas Emma Wibowo. (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Source:Database Kliping MATHIAS HARIYADI
203.130.222.210
ProLH Kalimantan dan Proses Pembangunan SDM
KOMPAS - Kamis, 08 Aug 1996 Halaman: 22
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 8406

Saturday, 10 May 2008

Amrozi Coupable delle bombe di Bali 2002

Fissata l’esecuzione per Amrozi,
responsabile delle bombe di Bali
di Mathias Hariyadi

E’ stato condannato a morte nel 2003 per le bombe che nel 2002 hanno ucciso 202 persone. Dopo molti rinvii, l’esecuzione è fissata in una piccola localitàdi Java centrale. Ma potrebbe essere ritardata per l’annunciata presentazione di un nuovo appello.

Jakarta (AsiaNews) – L’esecuzione capitale per Amrozi, colpevole dell’attentato esplosivo di Bali, avverrà a Cilacap, piccolo distretto nella Java Centrale, come ha annunciato il procuratore capo Abdul Hakim Ritonga. La scelta è stata complessa “per ragioni di sicurezza” e per gli stessi motivi non è stata ancora indicata nemmeno la data dell’esecuzione.

I legali di Amrozi e degli altri due condannati, Ali Gufron e Imam Samudra, intanno intanto per presentare la richiesta per una terza revisione del processo.

A Bali il 12 ottobre 2002 una serie di bombe in località turistiche ha ucciso 202 persone, soprattutto turisti. L’opinione pubblica è ancora infuriata per l’attentato e critica i ripetuti rinvii all’esecuzione, già fissata per il 22 agosto 2006, ma rinviata per un appello e poi posposta per ragioni “tecniche”. La rivendicazione degli attentati è arrivata dalla Jemaah Islamiah , la rete terroristica legata ad al Qaeda ed attiva nel sud-est asiatico, e i 3 condannati non si sono mai pentiti del loro gesto.

Intanto all’inizio della settimana Amrozi ha presentato domanda per risposare l’ex moglie Rahma, con la quale ha due figli.

critica i ripetuti rinvii all’esecuzione, già fissata per il 22 agosto 2006, ma rinviata per un appello e poi posposta per ragioni “tecniche”. La rivendicazione degli attentati è arrivata dalla Jemaah Islamiah , la rete terroristica legata ad al Qaeda ed attiva nel sud-est asiatico, e i 3 condannati non si sono mai pentiti del loro gesto.

Intanto all’inizio della settimana Amrozi ha presentato domanda per risposare l’ex moglie Rahma, con la quale ha due figli. Sud-est asiatico, e i 3 condannati non si sono mai pentiti del loro gesto.

Intanto all’inizio della settimana Amrozi ha presentato domanda per risposare l’ex moglie Rahma, con la quale ha due figli.

Ecrit par Mathias Hariyadi
AsiaNews, Saturday 10 May 2008

Friday, 9 May 2008

Perempuan-perempuan Modis dari Tiongkok


Yang Muda, Bebas, dan Modis dari RRC

SEJAK program reformasi bergulir mulai tahun 1978-ketika pemimpin Cina Deng Xiaoping mulai membuka pintu RRC bagi dunialuar- perubahan apa yang mencolok di masyarakat RRC?Ini salah satu jawabannya: rakyat RRC semakin pandai bergaya dan tampil modis.

Mengikuti perjalanan "ngamen" rombongan misi kesenian Indonesia dari Direktorat Kesenian Depdikbud ke sejumlah kota besar di Cina selama sekitar dua minggu, Kompas tak pernah menemukan satu orang pun di sini yang berbusana zhong shan zhuan (kata zhuan berarti pakaian)-seperti bisa dilihat orang pada film-film Mandarin kuno. Kaum perempuan pun juga sudah lama meninggalkan qi pao-jenis busana khas Cina untuk kaum perempuan.

Kalaupun dua jenis busana ini masih dipakai, itu tak lebih karena motivasi ingin "pamer" saja daripada mode de vivre. Inilah yang biasa dikenakan para gadis rupawan di depan restoran-restoranberbintang yang selalu memakai jenis busana long dress dengan garis sobekan tinggi sampai 20 cm di atas lutut.

Sementara kaum prianya kini merasa lebih akrab dengan busana hem, T-Shirt, atau jas daripada zhong shan zhuan. Begitu pula kaum perempuan RRC modern, kini jauh merasa lebih modis dalam penampilan kalau berbusana rok mini dengan stockings transparan yang membalut kaki daripada qi pao. Jins ketat dipadu kaus tank-top transparan atau baju atasan tanpa lengan, kini makin menjadi "seragam resmi"mereka saat-saat santai. Kalaupun harus berpenampilan lebih "sopan" saat mengikuti acara resmi atau di kantor, blazer menjadi pilihan mereka.

Kini menjelang datangnya milenium baru, mereka juga semakin terampil memoles diri dalam gaya maupun penampilannya. Gaya hidup kebarat-baratan pun mulai dilirik, terutama oleh kaum mudanya. Apalagi setelah arus komunikasi dan informasi asing seperti jaringan televisi CNN, MTV, dan internet juga dibuka seluas-luasnya bagi mereka, meski belum semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya karena kendala biaya.

Kaum muda RRC pun kini mulai rajin bersolek mempercantik penampilan sehari-hari. Para turis asing yang baru pertama kali mengunjungi bumi Tiongkok, pasti akan heran sekaligus kagum.
***
INGIN selalu tampil rileks namun tetap seksi. Inilah keinginan kaum perempuan muda RRC terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Beijing, Guangzhou, Zhengzhou, Wuhan, dan Shanghai. "Kami suka jenis pakaian yang lebih praktis, sedap dipandang, feminin, namun tetap seksi," begitu kata Ng Ling (26), dara dengan tubuh berisi asal Wuhan saat ditemui di ruang tunggu Bandara Internasional Wuhan, Propinsi Hubei, pekan lalu.

Ng Ling tak sendirian. Yang Rui (27) asal Jiangshao-satu kota kecil di Propinsi Henan-juga bersikap sama. Meski pekerjaannya sebagai manajer sebuah restoran dan master of ceremony selalu menuntutnya harus berbusana rapi dan "resmi", namun dara semampai ini tetap saja sungkan bila harus menyembunyikan keindahan kakinya di balik rok panjang. Alih-alih memakai celana panjang atau lainnya, sehari-hari ia tetap bertahan dengan rok mininya meski setiap hari mesti mengayuh sepeda dari rumah ke restoran-tempatnya bekerja.

Iklim kehidupan yang lebih memberi ruang lebar untuk kebebasan berekspresi. Inilah rupanya angan-angan sekaligus harapan kaum muda RRC masa kini. Pilihan cara berbusana hanyalah satu gambarannya, selain tentu saja ambisi-ambisi lain untuk mereguk iklim kebebasan seluas-luasnya termasuk mengutarakan pendapat dan melancarkan kritik. Sikap rigorous (ketat) mereka dalam mentaati aturan-aturan publik di satu pihak nyaris berjalan seiring dengan kelonggaran mereka dalam menyikapi soal hubungan asmara.

Meski di kota-kota besar seperti Beijing, Wuhan, Guangzhou, dan Zhengzhou ada aturan ketat yang melarang praktik "kumpul kebo", namun sejumlah orang dari kota-kota ini mengatakan terus terang bahwa hidup dan tidur bersama dalam satu atap tanpa ikatan perkawinan kini mulai marak. Seperti dikatakan Gie Lan (23) dan Zhang Li (24)- dua perempuan muda asal Beijing-yang berterus terang kini tengah menjalani hidup bersama dengan pacarnya di sebuah flat di luar Kota Beijing.

Bagaimana dengan urusan seks? "Kami melakukannya atas dasar sama-sama senang. Jadi, ya no problem!" katanya sembari cekikikan. Sudah barang tentu, perempuan-perempuan muda RRC seperti Gie Lan dan Zhang Li ini sehari-harinya juga senang mengakrabi irama kehidupan malam hari. Semua sudut ruangan diskotik Fuhao Nightclub di lantai tiga Hotel Xun Li Men atau Blue Yellow Ribbon tak jauh dari hotel-keduanya di Wuhan, Propinsi Hubei- setiap malam nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Tawuran antarpengunjung gara-gara rebutan cewek usai berkaraoke ria, menjadi pemandangan sehari-hari di ibu kota Propinsi Hubei.

Serba bebas, busana seronok, dandanan menor kian menjadi pemandangan umum di tempat-tempat hiburan malam seperti diskotik, KTV, dan bar yang menjamur di kanan-kiri jalan-jalan utama kota Wuhan ini. Setelah puas menghabiskan malam dengan nyanyi dan joget, kencan kilat antarsesama pengunjung-termasuk orang asing-para penikmat kehidupan malam ini biasanya melanjutkan kencannya di hotel-hotel kelas melati atau flat.

GENERASI baru telah "lahir" di RRC pasca-Deng Xiaoping. Inilah sebuah generasi yang kini tengah menikmati suasana lebih makmur (dibanding era tahun 1966-1976 ketika Revolusi Kebudayaan tengah berkecamuk). Pragmatisme menjadi sikap hidup generasi mereka. Serius bekerja, tetapi juga tak tanggung-tanggung memuaskan nafsu hedonistiknya dengan banyak makan-minum sampai puas saat menikmati leisure time.

Sebuah generasi baru terdiri kaum muda yang dinamis, bebas, dan modis kini mulai menemukan eksistensinya di RRC. Inilah mereka yang cuek terhadap politik dan ideologi negara. "I want to be free!" adalah dengus napas mereka sehari-hari.
(Mathias Hariyadi, dari Beijing)

Modernime Tradisional - Seorang pemudi bernama Wu Gang (20) tampak sabar menunggu kedatangan pacarnya di salah satu sudut Kota Beijing. Mereka berjanji untuk mengadakan kencan berdua dengan bersepeda keliling di jalan-jalan utama Beijing. Modernisme Cina yang ditandai banyak bangunan tinggi berjalan akrab dengan semangat tradisi, yang antara lain terwujud dalam hobi naik sepeda.

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Thursday 7 October 1999

Credit photo: 1/Kompas/mathias hariyadi
Photo caption: Kompas/mathias hariyadi

Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Yang Muda, Bebas, dan Modis dari RRC
KOMPAS - Kamis, 07 Oct 1999 Halaman: 9
Penulis: HARIYADI, MATHIAS
Ukuran: 6768

Killing Fields, the Legacy of Pol Pot: in Cambodia


Nate Thayer, Pembuka Mister Pol Pot

ISU bahwa Pol Pot (69) mati karena malaria tanggal 5 Juni 1996 lalu, ternyata tak benar. Petinggi Khmer Merah yang diberitakan dikubur sehari setelah meninggal di Phnom Malai itu masih hidup, meski untuk bisa berjalan pun ia harus dipapah orang lain. "Saudara Nomor Satu" itu kini masih ada di hutan Anlong Veng, sekitar 310 km arah baratlaut Phnom Penh, markas rahasianya.


Delapan belas tahun lamanya Pol Pot "menghilang", setelah rezim Demokratik Kamboja (DK) yang memerintah Kamboja periode 1975-1978 jatuh. Penampilan terakhir di depan umum pria bernama asli Saloth Sar ini terjadi awal 1979, ketika ia diwawancarai wartawan Jepang di persembunyiannya. Itu terjadi tak lama setelah invansi pasukan Vietnam ke Kamboja, menjelang Natal 1978, yang memaksanya dan pasukan Khmer Merah menyingkir ke Anlong Veng.


Teka-teki tentang pria kelahiran Prek Sbauv, 25 Mei 1928, mulai terjawab Minggu, 27 Juli lalu. Nate Thayer (37), wartawan majalah Far Eastern Economic Review (FEER) yang berkedudukan di Bangkok, Thailand, membuat kejutan besar.


"Saya baru saja tiba dari Anlong Veng, Sabtu lalu (26 Juli 1997-Red), dan melihat dengan mata kepala sendiri, Pol Pot ada di situ. Ia masih hidup, tapi terlihat sangat pucat," katanya di hadapan puluhan wartawan di Bangkok akhir bulan lalu.


Dunia langsung terkesiap. Rakyat Kamboja yang pernah merasakan kebrutalan Khmer Merah langsung memaki Pol Pot. Mereka meneriakkan agar Pol Pot segera diseret ke Phnom Penh, biar semua rakyat Kamboja bisa menghukumnya.

***
SEJARAH mencatat Pol Pot sebagai "arsitek" pembantaian dua juta rakyat Kamboja selama DK berkuasa di Kamboja tahun 1978-1979. Maraknya seruan dunia internasional yang menghendaki Pol Pot dibawa ke pengadilan internasional guna mempertanggungjawabkan kejahatannya melawan kemanusiaan, melengkapi klimaks "pencarian" dunia internasional atas Pol Pot.


Thayer beruntung, karena hanya dialah yang mendapatkan "undangan istimewa" dari petinggi Khmer Merah untuk menyaksikan "pengadilan" Pol Pot. Pria kelahiran Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, tanggal 25 Juli lalu menjadi orang asing pertama yang berhasil melihat sendiri
dari jarak dekat kondisi Pol Pot sejak diberitakan "menghilang" 18 tahun lalu. Ia juga menyaksikan proses jalannya persidangan yang mengadili Pol Pot.


Tentu ada keistimewaan tersendiri mengapa wartawan kolektor berbagai jenis senjata api itu bisa "dekat" dengan para petinggi Khmer Merah. Kalangan pers yang biasa meliput Kamboja dan sekitarnya tahu betul, sebagai reporter Thayer sudah menjejakkan kakinya di Kamboja mulai awal 1980 lalu. Sejak itu, kiprah lelaki berpostur tinggi besar dan selalu plontos itu tak pernah jauh dari kawasan Kamboja, Myanmar, dan Thailand. Thayer aktif meliput setiap peristiwa perang dan konflik bersenjata antarfaksi yang selama ini menjadi warna tersendiri dalam sejarah politik kontemporer Kamboja.


Tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Kamboja, kata sejumlah wartawan, Thayer adalah nama penting. "Ia salah satu wartawan asing yang punya jaringan kontak intensif dengan sejumlah petinggi Khmer Merah. Ia berhasil mendapatkan hal itu setelah bertahun-tahun aktif meliput berbagai konflik bersenjata antar faksi di Kamboja," ujar seorang koleganya sebagaimana dikutip AFP, Senin (28/7) lalu.

***
THAYER, mantan koresponden Associated Press, juga dikenal sebagai pribadi dengan inner zest luar biasa. Thayer tak segan turun ke lapangan (on the spot). Ia jarang kelihatan ciut saat terjun langsung di medan perang agar bisa mendapatkan hasil liputan seriil mungkin tentang tragedi terburuk dalam sejarah umat manusia: perang.


Ia membayar mahal atas kenekatannya itu. Salah satu telinganya tuli akibat terkena pecahan peluru saat meliput pergolakan Khmer Merah melawan pasukan Vietnam tahun 1980 lalu. Dibandingkan dengan 20 warga Kamboja yang bersamanya dalam sebuah bus, ia lebih beruntung. Semua teman penumpangnya tewas saat bus itu menabrak sebuah ranjau yang dipasang pasukan Khmer Merah, 15 Oktober 1989.


Kenekatan dan kelihaian membina relasi dengan para narasumbernya itulah yang mengantar dia bisa menjalin kontak-kontak rahasia dengan sejumlah petinggi Khmer Merah. Namun, kedekatannya dengan para petinggi Khmer Merah tak jarang mengundang kritik pedas dari para pekerja sosial. Mereka yang banyak berkiprah membantu para pengungsi Kamboja di kawasan perbatasan dengan Thailand tak suka melihat Thayer bergaul akrab dengan para pembantai dua juta rakyat Kamboja.


Ia berhasil membangun perasaan aman di hati para petinggi Khmer. Itulah yang mengantar mantan koresponden majalah Soldier of Fortune ini bisa mendatangi Anlong Veng, di mana petinggi Khmer Merah, termasuk Pol Pot, bersembunyi selama 18 tahun hingga tak pernah terendus pers dan bahkan oleh pemerintah Kamboja sendiri. "Selamat datang di zona pembebasan," ujar juru bicara Khmer Merah, Mak Ben, menyambut kedatangan Thayer di markas rahasia mereka di kawasan Pegunungan Dong Rek, awal Juli 1996 lalu.


Berkat Thayer, dunia tahu era kepemimpinan Pol Pot di jajaran Khmer Merah sudah berakhir, tak lama setelah "pengadilan rakyat" dengan saksi 500 anggota Khmer Merah menyatakan Pol Pot dan tiga anggota klik "lingkaran dalam" yang selama ini menyertainya, terbukti bersalah. Mereka terbukti telah melakukan pembunuhan, perkosaan, korupsi, dan menghancurkan "perdamaian nasional".

***
"BERCELANA panjang longgar warna hitam dengan kombinasi baju putih dan berbalut syal biru di lehernya, Pol Pot tiba di 'ruang' pengadilan dengan cara dipapah. Ia tampak pucat pasi dan terlihat sangat 'sakit'. Selama sidang berlangsung, pancaran sinar matanya sangat redup dan
wajahnya tanpa ekspresi. Tatapan matanya kosong dan sesekali Pol Pot terlihat mau menangis," jelas Thayer mencoba menangkap gejolak perasaan Pol Pot selama disidang. Pol Pot terlihat sangat traumatik dengan pengadilan itu. Tambah Thayer, "saya malah sempat berpikir waktu itu ia telah mati."


Pengadilan digelar oleh mantan anak buahnya, kata Thayer, karena mereka telah muak dengan Pol Pot. Terlebih setelah menyaksikan kekejian Pol Pot yang dengan entengnya mengeksekusi mantan Menhan Son Sen bersama 11 anggota keluarganya, 13 Juni lalu. "Setelah ditembak, ke-12 mayat itu lalu digilas truk. Pol Pot-lah yang memerintahkan itu semua," kata Perdana Menteri I Kamboja, Pangeran Ranariddh, waktu itu.


Itulah ungkapan protes gerilyawan Khmer Merah yang kini memberontak terhadap kepemimpinan Pol Pot. Menurut Thayer, arus pembelotan itu mencapai klimaksnya ketika "pengadilan rakyat" itu memutuskan mengganjar Pol Pot dengan hukuman penjara seumur hidup.

"Era kepemimpinan Pol Pot telah selesai... Rezim Khmer Merah yang selama ini terus membayangi rakyat Kamboja hingga dicekam ketakutan,sudah tak ada lagi," katanya di Bangkok, 27 Juli, seraya menambahkan, ia siap menjual foto-foto ekslusifnya tentang Pol Pot kepada siapa pun asal berani membayar 100.000 dollar AS.
***

WARTAWAN nekat dan beruntung ini tengah menyiapkan sebuah buku tentang Khmer Merah. Ia mengatakan, kepergiannya ke Anlong Veng Juli lalu bersama David McCage, juru kamera jaringan teve AS Asiaworks yang berbasis di Bangkok. Secara berkala, ia menyibukkan diri menjadi peneliti di Pusat Studi dan Stategi Internasional Universitas John Hopkins, AS.


Sesuai dengan janji Do Jones and Co., penerbit FEER, 27 Juli lalu, laporan eksklusif pertemuan Thayer-McCage dengan Pol Pot telah muncul dalam FEER edisi Kamis (7/8). Mereka yang ingin mengetahui proses terkuaknya tabir misteri Pol Pot, sebaiknya membaca sendiri laporan Thayer-McCage itu. Begitulah Thayer, anak mantan seorang dubes AS di Singapura itu, telah memahkotai dirinya sebagai wartawan.
(Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Monday 11 August 1997
Photo credit: AP/Nate Thayer
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Nate Thayer, Pembuka Misteri Pol Pot *Box
KOMPAS - Senin, 11 Aug 1997 Halaman: 24
Penulis: HARIYADI, MATHIAS Ukuran: 8201

Thursday, 8 May 2008

Paradis, Keindahan Tari Kontemporer Perancis

"Paradis", Pesona Tari Memeluk Bayangan

AKSI berjalan gontai sembari memeluk bayangan bisa menjadi bagian menarik dalam sebuah komposisi tari. Companie Montalvo-Hervieu dari Perancis membuat aksi menawan itu dalam pentas Paradis (Surga) di Taman Mini Indonesia Indah, Selasa (14/3) malam lalu.

Sepuluh penari pria dan perempuan datang silih berganti memenuhi panggung. Sekali waktu datang seorang penari tua botak berlarian ke sana-kemari dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir dua penari perempuan sembari menyemprotkan air dari mulutnya. Kali lain, seorang penari perempuan dengan lingkar dada dan pinggul besar bergoyang pinggul gaya Afrika. Sementara puluhan "penari" lain hewan dan manusia berbagai usia- menari-nari dan berjalan-jalan di layar monitor proyeksi multimedia.

Di sinilah pesona koreografi Paradis, ketika para penari panggung bisa "bercengkerama" dengan sekalian bayangan "penari lain" yang terpantul di layar putih yang

menjadi latar panggung. Bukan hanya ini saja, karena dialog lewat gerak antara penari riil dengan penari bayangan itu juga terjadi di awang-awang, yakni ketika penari panggung menggaet-gaet "penari lain" yang tengah "terbang" di udara.

Hebatnya lagi, semua permainan sarana canggih ini berlangsung dalam tiga dimensi. Dalam sekejap penonton bisa terkecoh untuk tak mampu membedakan mana penari betulan dengan "penari lain" yang hidup dalam alam bayangan.

"Fantastique!" (Mengagumkan!).

Begitulah komentar spontan penonton usai menyaksikan Paradis sepanjang 60 menit yang juga dihadiri Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Monsieur Gerard Cross. Tepuk tangan meriah selama tujuh menit tanpa henti menyambut penampilan para penari asuhan duet Jose Montalvo-Dominique Hervieu di ujung pentas.
***
GERAK-gerak lincah para penari break-dance yang ngetop awal tahun 1980-an ikut memperkaya komposisi Paradis. Permainan head-spin di mana batok kepala menjadi tumpuan gerak tubuh yang bergerak dalam putaran cepat menjadi tontonan menarik, selain gerakan kaki seakan-akan melayang beberapa sentimeter di atas panggung hingga goyangan tubuh ke samping tampak seperti melayang.

Sebuah tarian yang mengingatkan kita
pada tarian Michael Jackson dalam video klipnya Moon Walking.

Itu belum seberapa, karena tari Afrika juga ikut memberi warna Paradis. Taruh misalnya seorang penari perempuan berukuran serba besar yang dengan kekuatan fisiknya bisa memainkan seluruh otot-otot perut dan dadanya hingga gelambir-gelambir di pinggangnya bisa ikut menari. Begitu pula ketika ia menggerakkan otot-otot pantatnya: seakan-akan di ujung pantat itu tumbuh ekor yang pandai menari.

Dalam Paradis terjadilah sintesa antara elemen-elemen tari klasik gaya balet dengan anasir-anasir tarian tradisional Afrika dan Asia. Ini tampak ketika penari keturunan Afrika bertubuh gembrot itu berduet dengan seorang penari Eropa. Juga ketika seorang penari pria kulit hitam dengan siulan gaya hutan Afrika tengah merayu penari perempuan kulit putih.

Tentang Paradisyang mengandalkan permainan gerakan tubuh serba
dinamik dengan presisi waktu serba tepat ini hanya ada satu kata kuncinya: stamina fisik prima. "Ketepatan, kecepatan tubuh penari
merespon gerakan di layar monitor mengagumkan, selain presisi waktu dan elastisitas tubuh. Telat sedetik saja, rusak sudah tarian itu," ungkap koreografer Sentot Sudiharto.

Presisi bermain tempo dan elastisitas tubuh adalah pesona Paradis, selain kemampuan sutradara Montalvo-Hervieu memadukan elemen-elemen tari tradisional dengan modern. Inilah yang membuat penari perempuan-sekalipun luar biasa gembrot-tak lagi menjadi sebuah hambatan dalam tarian. Begitu pula postur tubuh pendek juga tak menjadi kendala, ketika harus memainkan gerak-gerak karikatural.
(Mathias Hariyadi)


SALTO - Gerakan salto ikut mewarnai komposisi tarian berjudul Paradis
di Taman Mini Indonesia Indah, Selasa (14/3) malam lalu. Grup tari
modern Compagnie Montalvo-Hervieu asal Perancis juga menyuguhkan
gerakan-gerakan tari break-dance dan tarian memeluk bayangan sendiri.

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Saturday 18 March 200

Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Paradis, Pesona Tari Memeluk Bayangan
KOMPAS - Sabtu, 18 Mar 2000 Halaman: 9
Penulis: RYI Ukuran: 4263
"PARADIS", PESONA TARI MEMELUK BAYANGAN
Photo credit & caption: Kompas/Mathias Hariyadi

Brand image is everything


Acid Rain, Rekayasa Kesadaran


SUASANA lantai disko Bengkel Night Park Semanggi, Jakarta, Jumat (25/6) malam lalu, betul-betul semarak. Tak kurang 10.000-an jiwatumplek di situ. Suasana makin memanas, ketika serombongan cowok-cewek berpakaian minim mulai menyesaki panggung utama. Pertunjukan tari perut mereka dengan berbagai variasi gerakan beraroma erotis dan sensual ikut merangsang heboh di kalangan penonton.

Lewat tengah malam, pentas disko dan tarian modern makin hot. Sementara ribuan orang berjejal-jejal mengisi setiap sudut dan menikmati euforia karena guyuran hujan buatan dari sejumlah sprinkler dari atap panggung, ribuan lainnya tampak terbuai oleh musik techno yang menghentak. Bagaikan magnet, dentaman musik metal ini langsung membius ribuan orang hingga mulai berjingkrak, meliuk-liukkan badan di tengah "hujan" sinar lampu disko, laser, dan gerimis buatan yang oleh panitia mau dikesankan dengan sebutan keren: Acid Rain Night Party.

Pentas sensasional kaum muda Jakarta ini makin panas dengan digelarnya fashion show. sejumlah peragawati kondang seperti Donna Harun, Karenina, Caroline Ingrid Aditha, dan "Ratu Aerobik" Vicky Burky ikut meramaikan suasana lenggak-lenggok di catwalk. Dan atmosfer erotis dan sensual yang tercipta lewat tarian perut pada awal acara semakin memanaskan suasana setelah para peragawati mulai memamerkan busana seksi karya perancang Kayana Tabitha.

***
INILAH satu pesta malam kaum muda metropolitan yang tampaknya mulai nge-trend di mana tarian modern digabung dengan fashion show, lomba body painting dan bermain-main dengan air lewat jog-jig. Kehangatan makin intens dengan digelarnya kontes Miss Playmate of the Year dengan tampilnya sejumlah artis beken menyeruak ke panggung utama.


Hajatan yang digelar Pall Mall sejak awalnya memang dirancang untuk merangsang fantasi, sekaligus membangkitkan keceriaan kaum muda haus hiburan. Pesta serupa dengan scope lebih kecil di Pasific Klub, Bandung Indah Plasa, Jumat (2/7) malam lalu rupanya kembali menegaskansemangat serupa, yakni pesta malam memang diperlukan untuk kaum muda yang mulai jenuh dengan sepak-terjang politik dalam negeri. "Bosen aah, tiap hari mendengar Megawati tanpa henti terus saja dijegal langkahnya menuju Istana," ujar Fanny (19), cewek Bandung yang berparas geulis di luar arena pesta.


Yang menarik, di dua pesta ini, vandalisme dan kekerasan tak diberi kesempatan untuk tumbuh. Keributan antarpengunjung sama sekali tak terdengar. Bahkan, di sana-sini malah terlihat semacam ikatan "solidaritas bersama" antarmereka, ketika dengan semangat tinggi mereka saling bergandengan tangan, sementara satu tangan menunjuk keatas membentuk tanda "V" (victory) alias kemenangan untuk semangat antikekerasan. Padahal mereka berdiri berjejal-jejal memenuhi setiap sudut-saking lubernya hingga menggeser pantat pun nyaris tak bisa-dan berdiri nyaris selama empat jam nonstop.

***
TAK ada hubungan logis atau kaitan sebab-akibat antara Acid Rain Party dengan Pall Mall yang membidani acara ini. Namun pesta ini menyiratkan, betapa jelinya industri rokok menggarap dunia hiburan sebagai aset penting untuk bisa mendongkrak citra produk komoditas mereka.


Inilah fenomena baru, ketika state of mind kaum muda metropolis secara intens diobok-obok mesin bisnis dan industri periklanan. Tujuannya agar tercipta kesan atau pandangan subyektif di pusat kesadaran mereka tentang citra khusus mengenai satu-dua produk komoditas tertentu. Lewat pesta ini, jadilah Weltanschauung atau alam pikir kaum muda metropolis terbentuk.


Lalu apa hubungannya antara pencemaran lingkungan akibat hujan asam yang notorious dengan worldview kaum muda metropolis pecinta Pall Mall? Hubungannya tak ada. Namun kesan mendalam ribuan orang usai pesta malam itu bisa jadi sangat kental. Dan tak bisa dibantah lagi, ketika kemolekan tubuh, pesona wajah cantik, atau suasana basah kuyup menjadi semacam kenangan bagi mereka. Katakanlah semacam icon yang sub-sadar eksis di benak dan pusat kesadaran mereka.

Inilah kecerdikan dunia industri dalam memoles satu acara atau iklan guna mendongkrak brand image produk komoditasnya. Acid Rain Party adalah contoh, karena inilah sebuah proses tak kelihatan tentang upaya merekayasa kesadaran masyarakat untuk membentuk citra khusus atas sebuah produk komoditas tertentu.


Sebuah gaya beriklan pintar, ujar praktisi periklanan Nenny Soemawinata (kini Direktur RCTI), ketika cara apa pun ditempuh untuk mendongkrak citra dagangan. "Industri rokok memang piawai meramu idiom-idiom tertentu dalam mengemas iklan. Inilah hasil positif akibat menerima terlalu banyak restriksi atau larangan," jelasnya.


Menciptakan tagline alias kata atau kalimat tertentu yang bisa menjadi idiom sekaligus citra sebuah produk, jelas bukan pekerjaan gampang. Ini harus dilakukan agar begitu idiom itu diucapkan atau gambar tertentu ditayangkan, kesan orang atas sebuah produk tertentu lalu muncul seketika. "Come to Marlboro Country atau Bukan Basa-Basi adalah contoh-contoh kalimat tagline yang kini menjadi idiom bagi rokok merek tertentu," jelas Nenny.


Jeffry Alamsjah (32) mengatakan hal sama. Barangkali tak ada kaitan apa pun antara masyarakat konsumen pecinta rokok Marlboro, misalnya, dengan alam savana di mana para koboi menemukan habitatnya untuk menggembalakan ternak. Namun tak bisa dibantah, citra "dunia" Marlboro yang kini sudah terbentuk di alam pikir masyarakat internasional adalah tentang kehidupan para pria perkasa, yakni the cowboys yang macho dan punya solidaritas tinggi antarteman.


"Jadi, sangat mungkin orang suka Malboro, hanya karena ingin memberi kesan macho, atau inilah lifestyle seorang pria jantan kala bergaul di tengah peer-group-nya," jelas brand manager Pall Mall ini. "Brand image is almost everything (Citra produk nyaris menjadi segalanya)," kata presenter CNN, Jonathan Mann, pada acara Insight Jumat malam lalu.

Dan Acid Rain Party tak jauh dari itu. (Mathias Hariyadi)

SENSASIONAL - Pentas pertunjukan yang menmggabungkan berbagai kegiatan, tarian modern, fashion show, lomba body painting dan sebagainya yang bernama Acid Rain Night Party digelar di Bengkel Night Park Semanggi, Jakarta, Jumat (25/6)

Source: Foto:Kompas/Mathias Hariyadi
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Acid Rain, Rekayasa Kesadaran
KOMPAS - Minggu, 04 Jul 1999 Halaman: 1
Penulis: HARIYADI, MATHIAS Ukuran: 6512

Wednesday, 7 May 2008

The Personals 徴婚啓事

Kegelisahan Perempuan Asia

SALAH satu film menarik yang diputar pada Jakarta International Film Festival yang berakhir minggu lalu adalah The Personals. Film produksi Taiwan arahan sutradara Chen Kuo-fu (41) yang dibuat tahun 1998 ini berkisah tentang kehidupan seorang perempuan yang sukses dalam kariernya, tetapi memiliki "sisi gelap" dalam kehidupan pribadinya.

Film The Personals menggambarkan kegelisahan perempuan tak bersuami yang punya seorang anak hasil hubungan intim dengankekasihnya. Meski sesungguhnya ia tak harus bersuami untuk menjalani hidup ini, tetapi perempuan itu tetap gelisah dan berusaha kerasmencari pasangan hidup, lewat iklan sekalipun. Ini antara lain akibat nilai-nilai masyarakat yang menganggap perempuan tak bersuami merupakan sesuatu yang "aneh", perempuan mempunyai anak tanpa suami dianggap memiliki "sisi gelap" dalam hidupnya.

The Personals menampilkan suatu kehidupan metropolis yang gemerlapan. Namun kehingar-bingaran kota besar itu toh tak mampumenghapus kesepian dan kegelisahan yang dirasakan sebagian warganya,termasuk dokter Du Jiazhen (diperankan oleh artis Rene Liu),perempuan ahli penyakit mata. Di tengah kesi-bukannya melayani para pasien di sebuah rumah sakit besar di Taipei, Taiwan, dokter berparas manis dan lincah ini justru melalui hari-harinya dengan perasaan sepidan terasing. Sukses meniti karier ternyata tak berjalan seiramadengan kehidupan batinnya yang sepi.

Inilah problem manusia modern. Untuk mengatasi kesepian dan kegelisahannya itu, Du Jiazhenberusaha keras menemukan pasangan hidup. Ia beranggapan kalau bisa mendapatkan suami, hari-harinya tak lagi sepi karena ia bisa berbagi rasa dan pengalaman dengan pria tersebut. Di samping itu, tanpa sadar ia ingin menjadi sosok sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat sejak dulu hingga kini.

Akan tetapi mencari pasangan atau calon suami yang serasi dan cocok dengan dirinya ternyata bukan hal mudah. Untuk mendapatkansuami, Du Jiazhen harus meninggalkan praktik dan kariernya sebagaidokter. Ia punya kesibukan baru yaitu menyeleksi calon suami. Kegiatannya ini dimulai setelah Du Jiazhen memasang iklan dalam sebuah rubrik biro jodoh di koran lokal. Ternyata iklannyamenghasilkan banyak tanggapan dari para pelamar.

Dari sinilah berbagai adegan menarik dan kocak dalam film The Personals terus bergulir. Semuanya berkisah tentang bagaimana Du Jiazhen "menginterogasi" para calon suaminya, dan bagaimana setiap pelamar mencoba "menaklukkan" hatinya. Setiap hari ia harus bertemu tiga sampai empat orang pelamar.

Inilah hari-hari penuh canda sekaligus menegangkan bagi Du setiap kali menemui banyak keanehan dan keluguan para calon suaminya. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat dengan beragam profesi, mulai dari aktor yang menyamar, buruh pabrik, pria banci, germo, remaja ingusan, sampai bapak tua yang sudah beristri dengan sejumlah cucu.

LEWAT berbagai ragam pertemuan antara Du Jiazhen dengan para pelamarnya di kafe inilah, The Personals bertutur bagaimana manusia yang kesepian dan terasing berkecenderungan untuk menutupi kegelisahan hatinya. Dokter Du Jiazhen digambarkan sebagai sosok yang cerdas, terampil dan sukses, tetapi di sisi lain ia juga merasakan kegelisahan dan kesepian yang amat sangat.

Meski sukses dan pandai, tetapi Du Jiazhen tetaplah manusia seperti umumnya. Ia berusaha keras melenyapkan kegelisahannya. Untuk itu ia melakukannya dengan cara memanipulasi kegelisahan orang lain. Melalui wawancara yang intensif dengan para pelamarnya, Du Jiazhen bisa "memotret" isi hati terdalam para calon suaminya itu. Du Jiazhen seakan bisa menghibur diri dengan cara "mengintip" kekosongan hati orang lain. Ia cenderung menjadikan orang lain sebagai obyek.

Sosok Du Jiazhen oleh Chen Kuo-fu juga digambarkan sebagai tipikal manusia yang secara sadar ingin mengubur masa lalu yang dianggapnya kelam dengan cara "membongkar" persoalan-persoalan sesamanya. Mengapa Du Jiazhen yang berpendidikan dan sukses itu sampai hati melakukannya?

Semua itu terjadi karena pada masa lalunya ternyata jiwa dan hati Du Jiazhen mengalami "luka" yang sangat dalam. Mr Wu, kekasihnya, telah lama meninggalkannya. Tokoh Mr Wu - yang tak muncul dalam film The Personals - adalah pria yang telah beristri. Ketika mengetahui Du Jiazhen hamil akibat hubungan kasih mereka, Mr Wu mendesak agar gadis itu mau melakukan aborsi. Akan tetapi Du Jiazhen menolak permintaan kekasihnya. Mr Wu pun meninggalkannya dengan buah hubungan intim mereka.

Pengalaman hidup sekaligus luka teramat dalam inilah yang telah melahirkan keterasingan dan kesepian di hati dokter muda ini. Meski mampu "mempermainkan" perasaan para pria calon suaminya, tetapi Du Jiazhen ternyata tak tahan menghadapi kepalsuan hidupnyaterus-menerus. Ia lalu memutuskan berkonsultasi dengan Prof Lo, mantan dosennya.

Ketika Du Jiazhen bertemu Mr Chen (diperankan Chen Chao-jung) yang lugu dan jujur, ia tak bisa "mempermainkannya". Di sini ia menyadari kepalsuan hidup sekaligus obsesinya menemukan suami. Du Jiazhen jatuh cinta pada Mr Chen, keduanya lalu pergi bersama dan
bercinta.

Namun kisah asmara itu hanya berlangsung sesaat, karena Mr Chen pun pergi meninggalkannya. Pria yang baru dikenalnya itu pergi, karena bingung dengan perangai aneh perempuan dokter itu.Du Jiazhen yang tak kuasa menahan emosinya, menangis terisak-isak di kamar mandi dan meracau tanpa arah. Ia merasa telah "menemukan" Mr Wu yang selama ini tak ketahuan rimbanya.

Gagal merajut cinta dengan Mr Chen, Du Jiazhen yang sekian lama berusaha mencari Mr Wu, tak menduga bahwa akhirnya panggilan teleponnya kepada ayah anaknya itu dijawab. Seseorang di ujung telepon lain yang ternyata istri Mr Wu mengatakan, Mr Wu baru sajaditemukan meninggal dunia... (Mathias Hariyadi)

director: Chen Kuo-fu
screenplay: Chen Kuo-fu, Chin Shih-chieh, from a story by Chen Yu-hui
cinematography: Ho Nan-hong
editor: Chang Dar-lung
design: Wang Yi-bai
music: Steve Liu Sze-wei
producer: Hsu Li-kong
Zoom Hunt International
118 min
starring: Rene Liu Jo-yin ... Du Jia-zhen
also with: Chin Shi-chieh, Wu Bai, Niu Cheng-tse,
Chen Chao-jung, Gu Baoming


Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Thursday 2 December 1999
Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.79.135
"The Personals" : Kegelisahan Seorang Perempuan Asia
Swara Kompas - Kamis, 02 Dec 1999
Halaman: 40
Penulis: hariyadi, mathias
Ukuran: 6362
Foto: 1