Wednesday, 7 May 2008

Trois places pour le 26

Reuni Tanggal 26

JARANG terdengar, para sineas Perancis membuat film-film (drama) musikal. Namun, pada Festival Sinema Perancis kali ini, sejumlah film kategori itu disuguhkan kepada publik pencinta sinema Perancis. Film Trois Places pour le 26 (Tiga Kursi untuk Tanggal 26) adalah satu contohnya.

Film ini menarik tidak hanya karena aktor dan penyanyi besar Perancis, Yves Montand, ikut membintangi film ini dan menjadi pemeran utamanya. Lebih dari itu, Trois Places pour le 26 mampu menggabungkan sebuah kisah love story dengan musik, gerak-gerak tari kabaret, dan tentu saja lantunan vokal yang lumayan merdu.

Tak terduga, suatu kali menjelang gladi resik pertunjukan akbar itu, muncul seorang gadis dinamis bernama Marion. Tanpa ba-bi-bu lagi-meski juga belum kenal-gadis ambisius ini lalu menyambangi Yves Montand di kamar studionya. Marion, anak tunggal Baronne Mylene deLambert, berterus-terang sangat mengagumi Montand.


*
CINTA tak lapuk oleh perjalanan waktu. Meski sudah 20 tahun tak saling ketemu, diam-diam Madame Baronne Mylene de Lambert terus menguntit secara diam-diam keberadaan Yves Montand. Di bar "Paradis",tak jauh dari Gedung Opera di Marseille itu, kedua makhluk lawan jenis itu lalu bertemu, mengungkapkan perasaan kangen. Mereka jatuh hati untuk kedua kalinya.

Waktu berjalan sangat cepat. Montand berpisah dengan Mylene. Namun, waktu pula yang akhirnya mempertemukan kedua sejoli itu kembali di bar "Paradis" yang penuh kenangan. Di sini Mylene lalu buka suara. "Aku sudah hamil dua bulan terlebih dahulu, sebelum saya menikah
dengan Baron de Lambert yang menjadi seorang pengusaha sukses dan kini tengah bepergian ke Jepang," katanya jujur namun juga membohongi Montand. Padahal, yang sebenarnya terjadi sang Baron itu kini tengah meringkuk di penjara karena ditahan atas kasus pidana.

Tiba waktunya Marion mengikuti serangkaian audisi bersama Toni Fontaine, sutradara Montand. Dan singkat kata, ia lulus. Demi karir baru ini, ia lalu meninggalkan toko minyak wangi milik Madame Simonot-tempatnya dulu bekerja sebagai pramuniaga. Sepenuhnya, kini ia terjun menekuni dunia akting.

Pertunjukan akbar Yves Montand tanggal 26 itu ternyata sukses besar. Marion dan Montand hanyut dalam suka cita meluap hingga dua manusia beda usia ini terbuai asmara yang begitu membara di sebuah hotel mewah di Marseille. Lewat sebuah dialog pagi hari berikutnya, Marion lalu mengerti bahwa sang bintang besar yang baru saja mengencaninya semalam itu tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
First published by Kompas, Saturday 10 June 2000

Source:Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.79.135
Reuni Tanggal 26
KOMPAS - Sabtu, 10 Jun 2000
Halaman: 10
Penulis: RYI
Ukuran: 3684

Maklumat Gus Dur dalam Kepalan SBY

Buku adalah Kampanye Politik


Kritik terbuka ini layak dikemukakan, kata Eep karena kedua penulis buku itu secara serta merta begitu saja langsung memberikan kriteria-kriteria penilaian baik tertentu tentang karakter pribadi Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang kini menjabat MenteriKoordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Kabinet Gotong Royong.

Di dalam buku yang diterbitkan Harian Umum Sinar Harapan bekerja sama dengan Aksara Kurnia itu, Yudhoyono digambarkan oleh penulisnya sebagai pribadi yang hangat, amat santun, komprehensif, jujur, dan punya integritas tinggi terhadap komitmen membangun demokrasi di
Indonesia.

"Saya pikir, daripada menyatakan itu, jauh lebih baik beberkan saja semua fakta peristiwa-peristiwa politik di masa lalu agar kemudian pembaca bisa memiliki kesimpulan sendiri seperti apa pribadi Pak Susilo Bambang Yudhoyono ini," kata Eep sebagai panelis tunggal
pada acara yang berlangsung di Jakarta.


Akhiri karier politik
Saat memberikan sambutan dan tanggapannya, Yudhoyono menyatakan, sebagai pengemban maklumat dan dalam beberapa hal berbeda pendapat dengan pendirian Presiden Abdurrahman Wahid, ia akhirnya malah diberhentikan dari jabatannya sebagai Menko Polsoskam. "Justru
maklumat itu telah mengakhiri karier politik saya saat itu," ungkapnya.

Yudhoyono mengakui pihaknya sangat bisa memahami mengapa Presiden Abdurrahman Wahid sampai memberhentikannya. Ia mengaku bisa menerima keputusan itu dengan ikhlas. Ia justru bersyukur dengan pemberhentikan itu karena keputusan itu telah menutup peluang baginyauntuk lalu bersikap tidak loyal kepada atasan (Presiden) dan atau kemudian malah melakukan "perselingkuhan" politik untuk menjatuhkan Presiden. "Saya ikhlas dan bisa memahami mengapa saya diberhentikan," kata Yudhoyono.

Ditanyai Eep apakah benar dirinya ikut menjadi arsitek perancang naskah Maklumat itu, dengan tegas Yudhoyono menyatakan dirinya tidak tahu-menahu soal itu.
(Mathias Hariyadi)



Buku Yudhoyono - Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (23/8), memberikan sambutan dalam peluncuran buku tentang dirinya yang berjudul Susilo Bambang Yudhoyono dalam 5 Hari Mandat Maklumat di Hotel Regent, Jakarta.

Photo caption: Kompas/Mathias Hariyadi (RYI)
Photo credit: Kompas/Danu Kusworo

Source:
Peluncuran Buku Yudhoyono: Jangan Jadi Alat Kampanye Politik
KOMPAS - Jumat, 24 Aug 2001 Halaman: 6
Penulis: ryi Ukuran: 2924
Foto: 1 Peluncuran Buku Yudhoyono
Kompas/Danu Kusworo

Mister Bean, Manusia Super Tengil

Rowan Atkinson, Sukses Si Tengil Mr. Bean

MEMBUNGKUS perangai anak laki-laki umur sembilan tahun ke dalam raga manusia dewasa bernama Mr Bean adalah prestasi paling hebat Rowan Atkinson (42) sejak menekuni karier di seni peran mulai 1977. Milyaran pemirsa televisi yang menyukai serial komedi Mr Bean karena mampu mengocok perut membuktikan betapa penulis ide dan penggagas cerita, Rowan Atkinson, seorang brilyan. Di tangan Atkinson, jadilah Mr Bean profil tipikal seorang anak laki-laki lengkap dengan perangainya yang khas dan cenderung egomaniak.

"Harap jangan keliru menafsirkan profil Mr Bean sebagai pria dewasa berjiwa kanak-kanak. Sebaliknya, ia adalah anak-anak yang jiwanya "terkurung" dalam tubuh manusia dewasa," kata Atkinson menjawab Associated Press.

Profil Mr Bean menjadi sangat stereotip: nakal, suka usil, suka membuat onar, dan menikmati "penderitaan" orang lain tanpa rasa salah. Sesuai format kreasi Atkinson seperti tayangan jaringan televisi ITV dan HBO, Mr Bean adalah pribadi berperangai tengil alias menyebalkan,egosentrik, jorok, dan troublemaker (pembuat onar). Itulah karakter rekaan yang nyaris mirip dengan tokoh Bart Simpson dalam film kartun The Simpsons.

"Dalam format televisi yang lamanya setengah jam, Mr Bean adalah profil anak laki-laki yang cenderung memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri alias egosentrik. Mr Bean egois dan gampang sekali terbakar emosinya bila tersinggung atau terhalang keinginan- keinginannya," jelas Atkinson seperti dikutip TV Guide.

"Mr Bean maunya mencoba sikat gigi terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan membeli alat gosok gigi itu. Ia hidup dalam dunianya sendiri dan soliter," tandas bapak dua anak bernama Lily dan Ben, hasil perkawinannya dengan Sunetra Sastry.

Atkinson berpendapat, karakter stereotip Mr Bean yang tengil justru menjadi daya tarik kuat hingga banyak pemirsa televisi, terlebih anak-anak, menggandrunginya.

"Anak-anak jatuh hati pada Mr Bean, karena lewat profil itu mereka secara tak sadar bisa menemukan cerminan. Egosentrisme dan egoisme, dua perangai dominan dalam hidup anak, tercermin kuat dalam Mr Bean. Orang melihatnya sebagai tontotan menghibur," jelas Atkinson, penggemar olahraga otomotif dan kolektor berbagai mobil sport yang kini bermukim di Oxfordshire, Inggris.
***
LAHIR 8 Januari 1956 sebagai anak bungsu pasangan Eric Atkinson-Ella May (dua kakaknya bernama Rupert dan Rodney), Rowan Atkinson banyak menghabiskan masa kecil dan remajanya di kawasan perkebunan Newcastle-Upon-Tyne, Durham, tanah kelahirannya. Meraih gelar insinyur elektro dari Universitas Newcastle dan Master of Science dari Universitas
Oxford, Atkinson semula bercita-cita menjadi peneliti di sebuah laboratorium riset.
Ternyata, justru di Oxford itulah minat Atkinson akan kesenian tumbuh. Jiwa keseniannya ikut tertantang ketika mulai terlibat dalam sejumlah pementasan tontonan komedi-situasi. Peluang membuktikan diri berbakat sebagai entertainer dalam seni peran terbuka lebar, ketika Richard Curtis, teman kuliahnya, mendesaknya naik pentas di panggung Oxford Playhouse. Tanpa diduga, penampilannya dalam forum seni di lingkungan Oxford itu sukses. Dalam skenario rancangan Curtis, Atkinson dipasang untuk memerankan tokoh Ron Anderson, profil manusia tamak sekaligus egois. Meski tak mudah, ia berhasil memerankannya.

Duet Atkinson-Curtis makin produktif menggarap naskah-naskah drama komedi-situasi. Tahun 1977 mereka mementaskan satu karyanya dalam Festival Internasional Fringe di Edinburg, Skotlandia, sebuah forum festival kesenian terbesar di kawasan Eropa.

Namun, jalan lapang Atkinson menuju sukses dalam industri hiburan baru terbuka lebar, menyusul penampilannya di Hampstead Theathre 1978.Sukses itu menarik minat para produser acara televisi hingga membujuknya agar bergabung. Alih-alih menerima tawaran itu, Atkinson memilih berpentas dalam Not the Nine O'Clock News, serial produksi jaringan televisi BBC-TV arahan Mel Smith yang menggarap film The Tall Guy.

Tanpa diduga, Atkinson meraih sukses hingga serial itu mendapat penghargaan The International Emmy Award. Penampilannya yang cemerlang dalam serial itu memenangkan The British Academy Award 1980 untuk kategoriTayangan Hiburan Ringan. Melengkapi itu, Atkinson langsung dinobatkan sebagai "The BBC Personality of The Year".
***
Minat dan bakat sama mengkondisikan hubungan kerja sama antara Atkinson- dan Curtis makin erat. Awal tahun 1983 mereka mulai menggarap naskah-naskah drama tragedi-situasi The Black Adder dan selanjutnya The Thin Blue Lines (1995), produksi BBC-TV. Jauh sebelumnya, Atkinson aktif mementaskan The Nerd di London's West End. Itu diikuti perjalanan keliling dunia mempromosikan karya solonya Rowan Atkinson at the Atkinson. Namun, pentasnya di Manhattan, New York tak disambut hangat publik Amerika Serikat.

"Bukannya tak bisa dipahami, kalau penggemar terbesar komedi-situasi itu berasal dari Inggris dan bukan Amerika," ujar Franc Rich, kritikus drama dari The New York Times mengomentari Atkinson yang dianggap "gagal" memikat publik AS.

Kegagalan itu tak melemahkan Atkinson dalam menulis naskah-naskah drama komedi-situasi, apalagi Curtis tetap kooperatif. Jalan mulus menuju sukses terbuka, ketika bersama Curtis ia memproduksi dan membintangi sendiri serial Mr Bean, mengisahkan tentang satu tokoh rekaannya yang senang membanyol lebih dengan gerak-gerik mimik dan gestures daripada kata-kata.

Atkinson sadar, komedinya sangat British style, yang berbeda jauh dari komedi Amerika yang lebih mementingkan komunikasi dengan para penonton lewat rentetan kata-kata.

"Publik Amerika Serikat terbiasa dengan komedi verbal. Sementara Mr Bean yang berasal dari tradisi kesenian Inggris lebih suka berkomunikasi lewat gerak tubuh dan ekspresi mimik," jelas pemeran konsul Inggris Small-Fawcett dalam Never Say, Never Again (1983) di mana ia bertemu bintang James "007" Bond Sean Connery dan cewek-nya Kim Bassinger.

"Mr Bean dan The Black Adder adalah dua setting peran sangat berbeda. Mr Bean pada dasarnya jenis komedi mini-kata, sementara The Black Adder justru banyak mengobral kata," ujarnya menjawab Rob Salam dari The Toronto Star dan CFRB Radio beberapa waktu lalu.

Meski awalnya susah menembus publik Amerika Serikat, namun sukses besar 12 episode serial Mr Bean tayangan ITV dan HBO tak urung menarik minat PolyGram Filmed Entertainment. Jadilah, penggemar serial drama teve ER dan Chicago Hope ini memerankan tokoh sama dalam "Mr Bean, The Ultimate Disaster Movie", format baru Mr Bean dalam layar lebar.
***
TAMPAKNYA banyak penggemar Mr Bean sudah telanjur salah mempersepsikan Atkinson sebagai pelawak. Padahal berperan sebagai penjahat dalam The Witches (1990) di mana Angelica Houston bermain cemerlang, Atkinson mampu "bermain" serius. Dalam Four Weddings and A Funeral (1994), ia malah memerankan tokoh pastor. Sementara dalam The Lion King (1994), ia menjual suara dalam perannya sebagai Zazu.

Apalah artinya itu dibanding popularitasnya memerankan Mr Bean. Saking banyaknya penggemarnya, pernah suatu kali Atkinson terpaksa minta asosiasi film Italia tak memutar filmnya agar ia bisa berlibur tenang tanpa gangguan diuber-uber fans. Sebuah bukti betapa Atkinson memang piawai mengemas ketengilan menjadi sumber kelucuan yang mendatangkan
banyak duit. (Mathias Hariyadi)


Written and posted by Mathias Hariyadi
First published by Kompas, Wednesday, 31 December 1997
Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
222.124.78.117
Rowan Atkinsons, Sukses Si Tengil "Mr Bean" *Box
KOMPAS - Rabu, 31 Dec 1997 Halaman: 20
Penulis: RYI Ukuran: 7776

Tuesday, 6 May 2008

Pabrik Tawa Artis Indonesia

Mari Tertawa bersama Artis

WAJAH cantik, segar dalam kemudaan, dandanan sophisticated, penampilan bercita-rasa kota besar, di tengah panggung kesenian tradisional: inilah adegan yang makin sering kita temui dalam tayangan-tayangan kesenian tradisional di televisi. Para bintang layar kaca yang sering muncul di sinetron maupun iklan, penyanyi, tiba-tiba saja ikut manggung bersama para pelawak, aktor wayang orang, dan ketoprak.

Ada sebuah perubahan dalam dunia hiburan. Dulu, bintang film merasa seperti menanggung "aib" kalau harus berpentas di panggung kesenian tradisional. Sekitar tahun 80-an, pernah seorang aktor yang kondang waktu itu dan kini masih sering muncul di televisi, uring-uringan di panggung Srimulat di Taman Ria Remaja Senayan, karena kemunculannya sebagai bintang tamu di situ diliput pers. "Nanti dikira saya tidak laku main film, terus muncul di Srimulat," ucapnya.

Arus kini berbalik. Dunia film Indonesia "mati suri". Dunia sinetron konon juga dalam proses surut.

Di luar gejala produksi itu, mungkin ada gejala lain: bahwa proses pencarian identitas dari arus kapitalisme dunia hiburan yang serba gemerlap juga terus berlangsung. Proses pencarian identitas ini barangkali termasuk pencarian bentuk baru kesenian-kesenian tradisional di satu pihak, keinginan para artis dunia hiburan modern mencari pengalaman baru di lain pihak. Maka, terjadilah pertemuan. Panggung kesenian tradisional menjadi forum rendez-vous (tempat kencan) antarseniman berbeda "jalur" itu.
***
TERSANJUNG, ini ungkapan paling pas untuk menggambarkan isi hati sejumlah artis yang pernah menjadi bintang tamu dalam Srimulat, Ketoprak Humor, dan Wayang Orang Bharata. "Pokoknya senang dan puas lahir-batin," ungkap Peggy Melati Sukma (22). Ia puas karena lewat Srimulat bisa menjajal kemampuan aktingnya, selain mendapat honor lumayan. "Besarnya 60 persen honor main dalam satu episode sinetron," jelasnya.

Penyanyi Vinny Alfionita (26) punya kesan sama. "Awalnya deg-degan karena saya bukan pelawak. Srimulat ikut memperluas wawasan seni dan saya puas," ungkapnya. "Itu secara tak langsung ikut mengatrol saya, selain kesempatan melatih akting," tandas bintang seksi Shinta Bella. "Srimulat itu sudah tenar. Jadi tak ada alasan tak senang," kata artis cantik Venna Mellinda.

Mereka tak sendirian. Sejumlah artis lain yang pernah menjadi bintang tamu juga punya kesan sama. Taruhlah itu Cut Keke, Susi Adella, Elma Theana, Diah Permatasari, Ulfa Dwianti, Yurike Prastica, dan Nia Lavenia.
***
BUKAN hanya di Srimulat, para artis-yang sebagian tak bisa berbahasa Jawa-bisa berhumor ria. Ketoprak Humor kini pun menjadi rendez-vous baru di mana sinergi antarseniman bisa "bertemu". Di ketoprak ini, sejumlah artis menjadi bintang tamu. Artis sekaligus penyanyi Misye Arsita adalah contoh paling gres, selain tentu saja Waldjinah, Murtisari Dewi, dan Ulfa Dwianti.

Sejak Ketoprak Humor mengudara pertama kali di RCTI, artis asal Surabaya ini sudah melibatkan diri. Boleh dibilang, Misye menjadi artis langganan karena setiap kali pentas Ketoprak Humor, artis ini selalu dilibatkan. Yang pasti, ungkap Misye, ia memang amat peduli dengan ketoprak.

Itu beralasan, karena dunia teater tradisional tak terlalu asing baginya. Peraih piala Vidia sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik pada Festival Sinetron Indonesia 1996 lewat Saat Memberi, Saat Menerima ini sedari kecil telah mengakrabi ketoprak. Suwardi, kakeknya, punya satu grup kesenian itu.

"Setiap kali liburan panjang sekolah, saya ikut main sebagai penari Bedhaya atau tokoh anak-anak," tuturnya sebelum pentas Ketoprak Humor berlakon Dalang Soponyono di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa waktu lalu. Malam itu ia berperan sebagai Mbok Emban alias wanita pengasuh putri kerajaan.

Sebelum ini, ia pernah tampil bersama kelompok ketoprak asuhan Taman Mini Indonesia Indah selama dua tahun. "Saya mau main, karena memang suka," ucapnya.

Ia mengaku selalu tertantang dengan peran-peran yang dibawakannya. Saat memerankan tokoh dayang (pembantu), ia memutar otak agar permainannya bisa mendatangkan gelak tawa penonton. Karena itu, sengaja tetap dipakainya sepatu yang bertumit tinggi. Penonton betul-betul tertawa.

"Mana ada dayang bersepatu? Justru dengan itu, saya bisa membuat penonton tergelak," ujarnya. "Pokoknya semuanya saya jalani dengan senang hati," katanya membandingkan main sinetron dan ketoprak. "Apalagi, honor main ketoprak tak kalah lumayan," tambahnya renyah.

Dalam waktu dekat ini, kehadiran para artis di tengah kesenian tradisional agaknya tetap akan menjadi sebuah trend. Termasuk, dalam acara-acara Lebaran yang sudah siap di depan mata. Maka, bersiaplah tertawa bersama para artis. (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Sulastri Soekirno (tri) also joined me during the reporting.
Credit photo by Kompas/Mathias Hariyadi
Models: Shinta Bella and Misye Arsita
Published by Kompas, Friday 15 January 1999
Hlm 1, Ukuran: 5020

Friday, 2 May 2008

Lady Di, the England's Rose

Selamat Jalan, Mawar Inggris

SELAMAT jalan Mawar Inggris, semoga dikau selalu tinggal di hati kami. Dikau adalah rahmat yang telah berhasil memposisikan diri di tengah kejamnya hidup. Dikau telah menyapa hangat kepada semua orang di negara ini, dan telah membisikkan teguran penuh kasih kepada semua orang tersisih dan menderita. Kini, dikau telah kembali ke pangkuan-Nya, dan semua bintang di langit tanpa henti akan selalu memanggil namamu..." kata penyanyi Elton John mengutip bait-bait pertama dan terakhir lagu Candle in the Wind.

Mawar Inggris. Itulah julukan terbaru bagi almarhumah "Putri di Hati Semua Orang" Diana Spencer (1961-1997), pemberian penyanyi dan pengarang lagu Elton John (50), Kamis (4/9) lalu. Penyanyi rock yang bernama asli Reginald Kenneth Dwight kelahiran Pinner, Inggris, 25 Maret 1947, menyatakan terus terang, ia tak mungkin bisa melupakan Putri Diana, dan karena itu ingin selalu mengenangnya.

Elton John terpikat dengan tingginya compassion dan kepedulian Putri Diana kepada para pasien AIDS di seluruh dunia. Ia juga tak bisa melupakan kata-kata menghibur Putri Diana yang mampu menguatkan hati dan perasaannya yang remuk redam, ketika keduanya duduk berjajar di bangku urutan paling depan di Katedral Milan, Italia, saat menghadiri upacara pemakaman perancang busana asal Italia, Gianni Versace, Selasa (22/7). "Saya adalah tipe orang sentimental dan begitu mudahnya terharu dan menangis," katanya kepada wartawan di London, Kamis, seperti dikutip Reuters dan AFP

"Namun, almarhumah Putri Diana sangat tegar. Ia terus menghibur saya dengan kesabaran dan kehangatannya, ketika kami bersama hadir di Katedral Milan pada upacara pemakaman Gianni Versace. Karena itu, saya harus melakukan hal sama kepada almarhumah di Westminster Abbey, Sabtu (hari ini)," tambah peraih Grammy Awards tahun 1995 berkat tembangnya Can You Feel the Love Tonight? dalam film The Lion King.

Sengaja mengambil nama-nama depan dua anggota Bluesology yang dikaguminya, Elton Deal dan John Baldry, menjadi nama popnya di blantika musik, Elton John berniat menembangkan lagu Candle in the Wind (Lilin di Tengah Angin) pada upacara pemakaman Putri Diana di Katedral Westminster Abbey, Sabtu ini. Menurut alumnus Royal Academy of Music di London, lagu gubahannya bersama Bernie Taupin tahun 1970 itu akan dipersembahkan khusus bagi Putri Diana.

Semula, katanya, lagu itu digubah khusus guna mengenang icon bintang film legendaris asal AS: Marilyn Monroe. Demi mengenang Putri Diana, lagu sama dengan lirik versi baru tulisan kembali Taupin akan ditembangkan dengan tujuan khusus: mengenang Putri Diana. "Karena itu, kami sepakat mengganti bait pertama yang semula berbunyi Selamat jalan Norma Jean menjadi Selamat jalan Mawar Inggris," katanya.

Elton John sengaja mengenang Putri Diana secara khusus. Nama "Mawar Inggris" yang ia persembahkan kepada Putri Diana tampaknya bukan hanya merupakan simbol kekaguman pria kolektor berbagai kaca mata atas kepedulian Putri Diana yang begitu besar kepada kaum papa, korban perang, dan para penderita AIDS.

"Selamat jalan Mawar Inggris. Ini ucapan terakhir dari negara yang merasa kehilangan atas kepergianmu. Kami akan selalu mengenang kepakan-kepakan kasih sayangmu yang mungkin tak pernah dikau bayangkan sebelumnya," katanya mengutip bait terakhir lagu itu.
(Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi (RYI)
Published by Kompas, Saturday 6 September 199

Foto: AFP/Elton John
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Elton John: Selamat Jalan Mawar Inggris ...
KOMPAS - Sabtu, 06 Sep 1997, Halaman: 1
Penulis: RYI
Ukuran: 3648

Requiescat in Pace: Lady Di

Kathedral Westmisnter Abbey, Altar Terakhir Lady Dy


SABTU, 6 September 1997. Kita tak tahu pasti, apa yang tengah bergejolak di lubuk terdalam masyarakat dunia ketika jarum jam raksasa Big Ben di London berdentang keras dan waktu menunjukkan pukul 10.00 (16.00 WIB). Yang pasti, suasana hening-haru akan menyergap 2.000 pelayat dari seluruh dunia di sudut-sudut Katedral Westminster Abbey yang bersiap mengikuti upacara pemakaman "Princess of the People" Diana (1961-1997).

Upacara pemakaman di Westminster Abbey dan kemudian upacara penguburannya di kompleks pemakaman keluarga Spencer di Althorp, Northamptonshire, sekitar 100 km dari London, adalah tempat-tempat terakhir "kehidupan" Putri Diana di dunia fana. Tak heran kalau kedua gereja kini jadi sorotan warga dunia. Terutama mereka yang setia mengikuti menit demi menit hari-hari terakhir Putri Diana sebelum dimakamkan.

Sampai hari ini, jenazah Putri Diana masih disemayamkan di Kapel Royal di Istana St James di London. Kapel Royal sudah lama menjadi "kamar doa" favorit keluarga kerajaan. Kapel Royal menjadi saksi bisu atas peristiwa perkawinan Ratu Victoria, Februari 1840 silam. Di situ pula Raja Charles I menerima komuni pertamanya, 30 Januari 1649.

***
KATEDRAL Westminter Abbey mendapat tempat tersendiri di hati rakyat Inggris, terutama keluarga kerajaan. Sejak dibangun tahun 1065 oleh Willem the Confessor dan direnovasi abad ke-13 dan ke-16, bangunan gereja berarsitektur gotik ditandai dengan lengkungan-lengkungan tinggi dan lancip hingga kini tetap mempunyai daya tarik tersendiri. Katedral itu jadi saksi bisu atas pernikahan dan upacara pemakaman serta kuburan 12 raja, 16 ratu (di antaranya, Ratu Elizabeth I tahun 1603), dan sejumlah selebriti Inggris seperti Charles Dickens, William Shakespeare (abad ke-18), PM Sir Winston Churchill (1965). Lebih dari itu, bangunan sama ikut jadi lokasi bersejarah di mana semua raja dan ratu Inggris dinobatkan.

Di Westminster Abbey itu pula Elizabeth II dinobatkan jadi Ratu dan Kepala Negara Inggris (1947), menikah dengan Pangeran Philip (1953); tempat pernikahan Putri Anne (1973), dan Pangeran Andrew (1986). Namun, Pangeran Charles menikahi almarhumah Putri Diana, 29 Juli 1981, bukan di Westminster Abbey, melainkan di Katedral St Paul yang akrab disebut-sebut sebagai "Cathedral of the People". Meski tak lagi "resmi" jadi anggota keluarga istana tapi karena dicintai mayoritas warga dunia, Putri Diana mendapat privilese: ibadat pemakamannya diadakan di Westminter Abbey yang selama ini praktis jadi simbol pusat "legitimasi religius" bagi keluarga Kerajaan Inggris.

Tak ayal, "perjalanan" terakhir Putri Diana mengikuti "jejak" Lord Nelson dan Lord Mountbatten. Upacara pemakaman paman Pangeran Charles, korban serangan bom pasukan Irish Republican Army (IRA), terjadi tahun 1979 silam.

Setiap orang beragama meyakini, upacara ritual pemakaman dan penguburan adalah tindak dan ungkapan sikap hormat kita kepada sesama manusia yang kita cintai, meski telah meninggal dunia. Dan untuk memeluk realitas hidup tak terelakkan itu, warga dunia yang mencintai Putri Diana menyediakan diri datang guna mau "menemani" detik-detik terakhir almarhumah sebelum akhirnya "dipeluk" bumi yang telah melahirkannya.

Ash to ash. Sama seperti semua manusia yang semula berasal dari tanah, akhirnya Putri Diana pun dalam sekejap akan menjadi tanah kembali. Itulah sebabnya mengapa Alfred Austin sampai berani mengatakan, "A tragedy at last, because life ends with death!" (menjadi sebuah tragedi akhirnya, bahwa hidup itu berakhir dengan kematian). "Putri Semua Masyarakat", requiescat in pace! Semogaberistirahat dalam kedamaian surgawi! (Mathias Hariyadi)

Written and posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Wednesday 3 September 1997
Source: Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Katedral Westminster Abbey menjadi Saksi
KOMPAS - Rabu, 03 Sep 1997 Halaman: 6
Penulis: HARIYADI, MATHIAS Ukuran: 3923
Foto: AP/Katedral Westminster Abbey

Matchbox 20 Manggung di Perth

Matchbox 20 Concert
Rayuan Rob Thomas

PENYANYI seksi Latin, Ricky Martin, barangkali harus cepat-cepat menggoyangkan pinggulnya untuk bisa mendongkrak emosi penonton agarkemudian mau menyanyi dan berjoget bersamanya. Namun, Rob Thomas(28)-penyanyi andalan kelompok musik Matchbox Twenty asal AmerikaSerikat-rupanya hanya cukup menggerakkan ujung jari manisnya hingga ribuan massa penonton yang memenuhi Stadion Perth Entertainment Center mulai berajojing bersama di bawah siraman lampu laser yang tak jarang memedar dari sudut-sudut panggung utama.

INILAH yang terjadi di gedung pertunjukan Perth, Selasa malam pekan lalu, ketika Rob Thomas tampil memukau bersama para personel Matchbox Twenty dalam sebuah konser di jantung ibu kota Western Australia ini. Dengan nyanyian penuh gelora semangat menggoda, grup musik rock AS dengan bintang utamanya Rob Thomas ini mampu menggoyang publik Perth selama nyaris dua jam penuh.

Penampilan Rob Thomas yang tak jarang berjingkrak-jingkrak riang dengan suara vokalnya yang melengking tinggi, namun, menawan telah membius massa penonton. Selasa malam lalu itu adalah "Matchbox Twenty Night" atau "Malamnya Rob Thomas" untuk tak mau melebih-lebihkan pengaruh grup rock AS ini dalam menyihir masa penggemarnya.
***
SUNGGUH Matchbox Twenty dengan Rob Thomas mampu menyuguhkan konser musik yang riang, penuh gelora, sekaligus melahirkan atmosfer romantis. Kali ini, irama musik rock-'n-roll yang biasanya penuh dentuman suara, terasa lebih romantis di tangan para musisi Matchbox Twenty dan terlebih karena gaya dan ucapan-ucapan seksi bernada rayuan dari Rob Thomas. "Tonight has that beginning of the week feel... and now let's change that," ujarnya bersemangat saat mulai mengajak ribuan penontonnya agar mau bergoyang bersamanya.

Antusiasme malam konser musik penuh semangat ini langsung hadir begitu layar besar di panggung mulai, muncullah Rob Thomas dengan tembang perdananya Bent, yang diambil dari album berjudul Mad Season. Menyusul kemudian sejumlah tembang hits lainnya seperti Better than Nothing dan 3Am yang diambil dari album berjudul Yourself or Someone Like You. Begitu populernya lagu-lagu ini hingga publik penonton Perth serasa mendapatkan partner untuk bergoyang. Wajar, karena album ini dikabarkan berhasil meraih penghargaan dua platinum.

Inilah kelebihan Rob Thomas sebagai seorang bintang musik rock. Begitu ujung jari manis Rob Thomas mengarah ke udara, maka bergeloralah semangat penontonnya yang rata-rata kaum muda usia untuk mulai bergoyang bersama mengikuti dentuman iringan musik rock yang begitu menghentak. Sudah barang tentu, kepiawaian Kyle Cook sebagai lead-guitarist amat mendukung penampilan Rob Thomas dalam menciptakan situasi penuh hura-hura, namun, terasa hangat sekaligus romantis.

Itulah sebabnya, meski di panggung Perth Entertainment Center beberapa menit sebelumnya sempat tampil terlebih dahulu kelompok Taxiride-bintang pop asal Melbourne-rasanya kehadiran mereka tak terlalu meninggalkan kesan mendalam di hati ribuan penonton. "Malam ini adalah malamnya Matchbox Twenty dan kami sungguh terpesona dengan gaya penampilan Rob Thomas," ungkap Jennifer Lynn Thomas (19), remaja Perth yang tampil seksi dengan busana tank-top dan bermurah hati memperlihatkan kemulusan pundaknya. "Rob is a new super star. I really love him," tambah cewek Albany ini penuh semangat.
***
Matchbox Twenty memang telah menjadi identik dengan Rob Thomas. Apalagi ketika sebuah piano elektrik yang dipasang di tengah panggung bisa dengan lincah dimainkan Rob Thomas. Suara dentingan tuts piano yang indah mengalir bersamaan suara Rob Thomas yang romantis membawakan tembang, You Won't be Mine.

Pentas lagu ini menjadi lebih menawan lagi, karena selain menggotong piano ke panggung, sejumlah musisi personel Matchbox Twenty lainnya juga mulai memainkan horns secara trio. Cukup hanya dengan jeda waktu selama beberapa menit, Rob Thomas kembali tampil membawakan dua tembang, Push dan Black & White People untuk menyudahi pertunjukan yang ditandai dengan banyak siulan panjang untuk menyambut ajakan goyangnya yang begitu syuur itu.

Yang pasti, kehadiran Matchbox Twenty dengan Rob Thomas-nya ini telah melahirkan aurora kegairahan yang begitu memuncak di semua sudut-sudut Gedung Perth Entertainment Center yang berlokasi di jantung Ibu Kota Australia Barat ini. "Matchbox Twenty dan Rob Thomas
telah melibas tuntas penampilan raja pop Melbourne, Taxirides," begitu komentar Julian Sheerwood, perempuan penggemar fanatik Matchbox Twenty kepada Kompas usai konser.

Sejak melempar album pertama, Yourself or Someone Like You, musim gugur tahun 1996, kehadiran Matchbox Twenty-kini sering disingkat dengan sebutan M-20- semakin diperhitungkan di panggung blantika musik rock dunia. Terlebih ketika single-nya Push berhasil masuk dan bertahan di nomor-nomor atas di puncak tangga percaturan musik dunia. Album debutnya, Yourself or Someone Like You, diperkirakan telah habis terjual hingga ribuan kopi, selain berhasil merebut penghargaan platinum sedikitnya lima kali.

Senyatanya, pesona utama kelompok M-20 ini tetaplah ada pada Roberth Kelly Thomas, pemuda AS kelahiran 14 Februari 1972 di sebuah pangkalan militer AS di Jerman yang kini lebih dikenal sebagai Rob Thomas. Dialah sekaligus motor kelompok musik rock ini, selain tentu
saja perannya yang amat vital di grup ini sebagai penulis lagu dan lead-vovalist-nya.

"Tanpa kehadiran Rob Thomas, rasanya kelompok M-20 ini terasa kurang menggigit," ungkap Shelly Hack (23) yang telah jauh-jauh dari Bunbury menyetir mobil sendirian selama dua jam hanya untuk menyaksikan pementasan bintang musik pujaannya ini.

Selain piawai dalam vokal, rupanya Rob Thomas juga pandai bermain piano dan gitar. Karena itu, dalam pementasan di Perth Selasa pekan lalu, kepiawaian bermain musik Rob rasanya klop dengan gaya permainan Kylee Cook yang tak kurang menggairahkan. Ditambah gaya gebukan drummer Paul Doucette yang masih dengan santainya tetap mengisap rokok, maka lengkap sudahlah gaya mempesona para personel anggota M- 20 ini. (Mathias Hariyadi, dari Perth, Australia)

Gaya Panggung Rob Thomas - Pencipta lagu dan penyanyi andalan grupmusik rock Matchbox Twenty asal Amerika Serikat, Rob Thomas, tampil atraktif di atas panggung pentas di Perth Entertainment Centre, 14 November 2000. Gaya penampilannya yang begitu atraktif berhasil menggelorakan semangat ribuan penonton konser Matchbox Twenty yang kebanyakan terdiri kaum muda untuk kemudian bergoyang dan menyanyi bersama Rob Thomas.


Photo credit and caption: Kompas/Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Friday 24 Nov 2000
Foto: 1 Kompas/Mathias Hariyadi
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33

Matchbox Twenty Concert, Rayuan Rob Thomas
KOMPAS - Jumat, 24 Nov 2000 Halaman: 32
Penulis: Hariyadi, Mathias
Ukuran: 7181 Foto: 1

Menyisir Tanah Abang Tahun 1995

Kiri-kanan rel, mulai Stasiun Tanahabang hingga Duri Pulo, Kelurahan Cideng, Jakarta Puasat, kini sudah bersih, setelah sekitar 200 bangunan milik 110 KK (kepala keluarga) dibongkar petugas, hari Sabtu (9/12). Pembongkaran itu dilakukan tim gabungan yang terdiri unsur Perumka, Pemda Kotamadya Jakarta Pusat, Muspika Kecamatan Gambir, dan sekitar 50-an petugas keamanan.

Para penghuni bangunan liar tidak mengira kalau rombongan datang naik kereta api di atas 20 gerbong bak terbuka. Belum sempat mereka memilah-milah barang yang akan diselamatkan, para petugas membongkar dinding-dinding tripleks begitu muncul aba-aba perintah pembongkaran.

Menurut keterangan Kepala Daerah Operasi (Kadaops) I Perumka, Ir Eddy Sasongko, hal itu dilakukan dalam rangka menegakkan Undang-undang No. 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian. Di situ ditegaskan, enam meter kiri-kanan rel KA harus benar-benar bebas dari bangunan. "Itu penting bagi keselamatan KA dan bagi para penghuninya sendiri," paparnya.

Sementara itu Camat Gambir, Tjuk Subianto menjelaskan, pembongkaran itu dilakukan setelah dilakukan penyuluhan dan pengarahan oleh Muspika Kecamatan Gambir.

Tjuk Subianto yang ditemui Kompas di lokasi pembongkaran menyebutkan, pihaknya sudah beberapa kali mengimbau agar para penghuni liar yang termasuk warga RW 01, 02, 03, dan RW 07 Kelurahan Cideng segera menertibkan bangunannya. Tapi sampai batas waktu yang telah ditentukan, imbauan itu tidak dilaksanakan. Menurut keterangan seorang petugas, bekas bongkaran bangunan liar itu selanjutnya akan dibuang di Bantar Gebang, Bekasi. (jj)

Written and Posted by Mathias Hariyadi alias JJ
Published by Kompas, Monday 11 DEcember 1995
Database Kliping
MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Kiri-kanan Rel KA Tanahabang Bersih
KOMPAS - Senin, 11 Dec 1995
Halaman: 8
Penulis: JJ
Ukuran: 1713

Nafsu Syahwat Tanah Abang

Gubug Dorong
Bursa Seks di Bongkaran, Tanah Abang

BERDANDAN menor dengan kaus transparan, gincu tebal, rok mini,dan parfum mencolok adalah panorama biasa di sepanjang bantaran Kali Banjir Kanal Tanah Abang, Jakpus. Di sepanjang lahan yang bersebelahan dengan rel kereta api, terlihat banyak wanita penjajaseks kelas teri tengah menunggu pelanggannya. Beberapa pasangan tampa sungkan bercengkerama dalam keremangan malam di bawah sorotan puluhan pasang mata yang melintas di situ.

Mulai dari jembatan hingga lorong-lorong gelap di sepanjang rel, ratusan lelaki hidung belang segala usia tengah berburu mangsa. Beberapa lelaki sedang menikmati minuman ringan seperti teh botol, air mineral. Di tempat lain terlihat beberapa orang menenggak botol-botol minuman keras cap kucing.

Sekelompok orang datang. Setelah beberapa menit nongkrong di bantalan rel sambil memicingkan mata mencari mangsa, tanpa ba-bi-bu lagi kerumunan itu segera berinisiatif mendekati para WTS yang tengah berkeliaran. Setelah menemukan pasangan yang cocok dengan tarif yang disepakati, para lelaki haus cinta itu segera mengajak teman kencannya mendatangi rumah-rumah petak yang dibangun di atas rel.

Orang-orang di situ menyebut bangunan gubuk yang berukuran 1 x 2 meter itu sebagai "gubuk dorong". Disebut demikian karena gubuk itu dibangun di atas rel hingga bisa didorong maju-mundur. Bila siang hari gubuk-gubuk dorong tiba-tiba "menghilang". Ternyata oleh para pemiliknya ruang kencan tersebut "disembunyikan" di tempat yang aman. Justru karena rumah kencan itu beroda di atas rel, maka begitu bisnis seks mulai surut seiring dengan datangnya pagi, rumah-rumah kencan itu lalu diamankan. Di dalam gubuk dorong yang hanyaberpenerangan lampu minyak itulah para lelaki hidung belang menyalurkan hasratnya biologisnya.
* * *
ITULAH sekilas gambaran kehidupan pria hidung belang dan kaum wanita penjaja cinta. Kehidupan mereka setiap hari hampir tak pernah lepas dari asap rokok, bir, minuman keras, obat perangsang, dan kondom. Pemandangan sejak pukul tujuh hingga dinihari itu setiap malam berlangsung di Bongkaran Tanah Abang, pusat bisnis seks papan bawah.

Bagi pria hidung belang berkantung tipis, lahan sepanjang rel itu ibarat "surga". Di situlah para kuli bangunan, kernet, sopir kendaraan umum dan pemuda pengangguran menyalurkan libidonya tanpa beban harus cemas kalau kepergok pacar atau istrinya. "Tak mungkin istri tahu kalau saya main. Lihat saja sendiri, tempatnya saja sudah kumuh. Jangankan mau datang, membayangkan keadaannya pun sudah susah," tutur Kusnanto (32), kuli bangunan asal Maos, Cilacap.

Pria mana yang tak setuju dengan pendapat Kus? Orang mau bilang apa, kalau di situ setiap laki-laki tak hanya bisa memuaskan birahinya, tapi juga bisa menyalurkan bakat berjudi. Mulai dari bola setan yang sekali pasang bisa mendapatkan "hadiah langsung" berupa uang sebesar sepuluh kali dari jumlah yang dipasang, hingga peluang memuaskan gejolak naluriah manusiawi untuk mencari kenikmatan inderawi seperti seks bebas, ajojing, minum, colak-colek.

Surga dunia seperti yang tergambar di atas itu tentu saja tak berlaku bagi Surpiah (34), wanita penghibur asal Kendal, Jateng. Baginya, kehidupan malam yang dijalaninya setiap hari itu terasa
sangat jauh dari "surga"-nya kaum lelaki. Ibarat harus minum pil pahit agar sembuh dari sakit, Surpiah terpaksa berpraktek sebagai WTS dengan honor Rp 10.000 sekali "main" agar bisa hidup. "Saya berani melakukan ini demi anak-anak saya di kampung. Tapi mungkinkah hal ini bisa saya lakukan seterusnya?," tuturnya berkaca-kaca.

Pertanyaan pesimistik Surpiah tersebut ternyata juga menjadi pangkal kegelisahan Lastri (24), WTS berkulit kuning asal Indramayu yang biasa mangkal di jembatan Kali Banjir Kanal. Selain karena masa depannya tak jelas, hampir setiap hari ia selalu dirundung kecemasan kalau-kalau dirinya sudah kena penyakit kotor semisal "jengger ayam" atau AIDS. "Dulu, ketika ada rame-rame seorang WTS kena penyakit tersebut, saya juga panik. Saya 'cuti' beberapa minggu, tapi pasokan uang ke kampung jadi menurun," katanya.

Kecemasan dan kegelisahan Surpiah, Lastri ternyata belum selesai. Selain soal-soal di atas, mereka juga takut kena razia. "Kami bukannya takut pada petugas, tapi kalau saya harus membayar Rp200 ribuan sekali kena garuk, apa kami tak jadi semakin miskin lagi?," tuturnya setengah bertanya.

Sulit dipercaya, tapi itulah potret nyata kehidupan WTS yang terpaksa melacur demi kepentingan anak-anak mereka yang tinggal di kampung. Mereka ini jelas bukan tipe manusia yang suka cari kenikmatan seks secara liar dan berlebihan. Yang terjadi justru sebaliknya, demi kepuasan birahi kaum lelaki mereka terpaksa menjual diri.

Kisah dua anak Hawa ini seakan menegaskan, Jakarta memang berlaku kurang ramah terhadap kaum urban miskin. Sebab, sementara sebagian besar penduduk Ibu Kota mulai istirahat dengan nonton TV di ruangan sejuk, ternyata Surpiah, Lastri dan ratusan koleganya malah harus bekerja keras. Itu pun dengan menjual dirinya sendiri. (Mathias Hariyadi)

Written and Posted by Mathias Hariyadi
Published by Kompas, Saturday, 4 November 1995
Source:
Database Kliping MATHIAS HARIYADI
125.160.216.33
Gubuk Dorong, Bursa Seks di Bongkaran
KOMPAS - Sabtu, 04 Nov 1995 Halaman: 8
Penulis: JJ alias Mathias Hariyadi in 1995
Ukuran: 5255

Indonesia-East Timor Relation

Ramos Horta apologises to Indonesia,
studies possible military ‘co-operation”

In his visit to Jakarta East Timor prime minister apologies on behalf of his president who had accused Indonesia of involvement in the attack against him in February. The visit is also meant to vet the possibility of military co-operation between the two countries, something which the international community views with concern.

Jakarta (AsiaNews) – East Timor President José Ramos-Horta apologised to Indonesian authorities for charges he made over Indonesia’s possible involvement in an attempted murder against him back in February. East Timor Prime Minister Xanana Gusmao yesterday delivered the apologies in person to Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono at the start of an official visit to Indonesia. For many it is not coincidental that the apology came as Indonesian police extradited to East Timor four East Timorese deserters linked to the attack.

On 11 February President Ramos-Horta was seriously wounded to the stomach in an attack led by rebel leader Alfredo Reinado, who was killed in the gunfight that followed the attack. Mr Xanana, who was also a target of the rebels, was not hurt on that occasion.

Official apology aside, the prime minister’s trip is designed to consolidate the tricky relations between the two neighbours.

Indonesia’s President Susilo himself announced that “sensitive” issues will be discussed, including limited military co-operation.

“We strongly hope that the international community will not suspect us for this kind of cooperation. We have agreed that military ties between Dili and Jakarta would only include an officer exchange programme,” Mr Susilo said.

East Timor’s demand to send its officers for commando training in Indonesia has not been implemented yet. “This is too sensitive,” President Susilo said.

From 1975 and 1999 East Timor was under Indonesian military occupation. The Indonesian military abused the local population in all sorts of ways, causing the death of tens of thousands of civilians.

Since 2000 however, the governments of the two countries have pursued a policy of friendship and reconciliation, trying to play down the violence that occurred before East Timor achieved independence (2001) as well as Indonesia’s subsequent failure to bring those responsible for such violence to justice.

04/30/2008 16:10
Written and posted by Mathias Hariyadi for the AsiaNews