Sunday, 22 March 2009

Mengunyah arti sukses

Sukses itu sederhana,
sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,

sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata
kiyosaki/tung desem waringin/the secret,
sukses itu tidak perlu dikejar,
SUKSES adalah ANDA!
karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma
untuk membuahi 1 ovum, itu adalah sukses pertama Anda!
Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna
tanpa cacat,itulah kesuksesan Anda kedua...

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1,
di saat tiap menit ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP,
itulah sukses Anda ketiga...

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas,

di saat 46 juta orang menjadi pengangguran,
itulah kesuksesan Anda keempat...

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari,
di saat ada 3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya
itulah kesuksesan Anda yang kelima...

Sukses terjadi setiap hari,
Namun Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click! yg dibintangi Adam Sandler,
"Family comes first", begitu kata2 terakhir kepada anaknya sebelum dia meninggal...
Saking sibuknya Si Adam Sandler ini mengejar kesuksesan,
ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya,

bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri,

keluarga nya pun berantakan,
istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya...

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris
supaya bukunya bisa terus2an jadi best seller
dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit
dan sukar didapatkan.. .
Sukses tidak melulu soal harta,rumah mewah,mobil sport,jam
Rolex,pensiun muda,menjadi pengusaha,punya kolam
renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald
Trump,& resort mewah di Karibia...

Tapi buat saya pribadi yg bisa hidup dengan sangat berkecukupan,
saya rasa sukses memiliki arti yang berbeda...
Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda
sendiri,mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana
saja....

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,

sukses yang sejati adalah menikmati &

bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda,
pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya,
sedangkan pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya,
setelah itu Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi
episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah,
hidup baik, tidak menipu, apalagi scam, saleh & selalu rendah hati,
Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan,
tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit,
sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya
kelebihan,keadaan,dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini,
karena hidup yang saya alami ini seperti roda pedati,
ketika masih mahasiswa hidup begitu nelangsa
cuma mampu makan warteg 1 kali sehari dengan nasi
setengah+sayur gratis+tempe goreng.
Tapi ternyata dulu nikmat makan di warteg kok sama saja
bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika,

Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah & terpal, hujan kehujanan, & panas kepanasan.
Tapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja
bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 diJepang,

Saya dulu, pulang-pergi ke sekolah jalan kaki atau
bersepeda sejauh 40 km, pakai baju lusuh, tas kotor & alat tulis seadanya,
datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman2 yg
lebih kaya, tapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya
naik mercy, sama2 nyampe juga ternyata, Mas...


Saya pernah diundang boss saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya, ada speaker untuk karaoke, ada untuk mendengarkan musik,
ada untuk home theater, dia bilang speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja
seharga 400 juta, saya disuruh ngedengerin waktu beliau putar musik jazz,
memang enak sekali, suara dentingan gelas & petikan bass bisa terdengar jelas,
tapi kok setengah jam di situ, saya toh bosan juga, Mas.

Sama saja nikmatnya mendengarkan musik di komputer sendiri,
yg speakernya cuma Simbadda 100 rb...

Pernahkah Anda menyadari? Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang Uang hanyalah alat tukar, Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda.
Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun
atau beli mobil/motor kredit selama 3 tahun. Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada
penawar tertinggi untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa
telepon dll... Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda, tapi diri Anda sendiri,
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kalilipat dari orang bodoh... Semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di seminar
bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa mencapai 100 juta!!!

Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa...

Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan,
bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama,
bila kita jual harganya justru malah turun...
Hidup ini kok lucu,
kita seperti mengejar fatamorgana,
bila dilihat dari jauh,
mungkin kita melihat air/emas di kejauhan,
namun ketika kita kejar dng segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai,
yang kita lihat yah cuman pantulan sinar matahari/cornflakes saja
oh...ternyata...

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas
Namun Anda masih mengejar fatamorgana tsb
ketimbang menghabiskan waktu Anda yg sangat berharga
untuk sungkem sama orangtua yg begitu mencintai Anda,
memeluk hangat istri/kekasih Anda,

mengatakan "I love you" kepada org2 yang anda cintai:
orang tua, istri, anak, sahabat2 Anda.
Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu,
selagi Anda masih sempat,
Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal,
mungkin besok pagi, mungkin nanti malam,
LIFE is so SHORT.

Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda,
entah itu bermain bola, memancing,
menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit Anda, berkebun, bermain catur, atau berkaraoke.. . Enjoy Ur Life,
LIFE is so SHORT....

Cirikhas Orang Kaya (Hati)

Apakah Anda orang kaya atau miskin? Bagaimana cara mengukur diri Anda, masuk kategori orang kaya atau miskin?Gampang. Berikut ini adalah indikasi2 yg bisa membuktikan bahwa Anda adalah orang kaya. Jika Anda tidak merasa memiliki indikasi di bawah ini, berarti Anda masih hidup dalam taraf kemiskinan :

1. ORANG KAYA BISA MEMBERI :
Seseorang bisa dikatakan kaya kalo sudah bisa memberi. Mengapa? Logikanya gini : orang kaya hartanya sudah terlalu banyak dan dia sering bingung harus taruh di mana. Daripada mubazir, tercecer2, rusak dimakan tikus, atau bahkan dicuri orang, mending berikan saja pada orang yg membutuhkan. Nilainya tidak masalah. Mau kasih orang Rp 100 perak atau Rp 100 ribu. Pokoknya siapapun yg bisa memberi, dia SUDAH PASTI ORANG KAYA.

2. ORANG KAYA TIDAK REWEL :
Kembalian dari toko kurang Rp 50 perak? Pelayan di restoran jorok? Pakaian pramusaji gak rapi? So what? Pada dasarnya, ketika Anda membeli sesuatu, pergi ke restoran, ke hotel, atau ke mana pun, dan ada orang yg "melayani" Anda, logikanya orang itu punya posisi di bawah Anda (namanya juga pelayan....) . Jadi sangat gak wajar kalau kita menuntut orang yg melayani kita itu haruslah orang yg sangat rapi, sangat sopan, cerdas, dan perfeksionis. Bayangkan pembantu di rumah Anda jauh lebih rapi, lebih sopan, dan lebih pintar daripada Anda. Gimana perasaan Anda? Bisa2, teman2 Anda mengira Andalah pelayannya, bukan Tuannya. Karena itu, kalo pelayan yg melayani Anda gak rapi, toko yg Anda kunjungi lusuh, pegawai toko tidak tersenyum pada Anda / jutek, atau pramusaji lupa kurang mengembalikan uang belanjaan Anda, Anda cukup tersenyum pada mereka. Gak apa2. Itu adalah hal wajar, karena mereka ada utk melayani Anda. Dan seorang pelayan tidak harus lebih baik daripada Anda.

3. ORANG KAYA TIDAK BERHITUNG :
Orang kaya gak pernah mikir soal hitung2an. Kalo teman yg minjam uang telat ngembaliin, ya udahlah. Toh cuman 1-2 hari atau 1-2 tahun. Ngapain diributin? Toh uang di rumah masih ada kok. Dan lagi kalo dia gak ngembaliin, ya ngapain harus ngejar dia atau maksa bayar, sampe manggil tukang pukul buat ngancam2 segala? Justru orang kaya punya sikap yg berpasrah. Kalo yg minjam tidak bisa mengembalikan, ya udah. Pasrahkan saja uangnya. Uang bukan hal besar buat orang kaya. Justru hati yang besar. Itu yg terpenting. Orang berhati besar dapat terlihat dari sikapnya yang bisa berpasrah. Hanya orang kaya yg punya hati besar.

4. ORANG KAYA TIDAK MEMINTA-MINTA :
Orang kaya tidak pernah minta2 pada tetangga atau sodara2nya.. Mereka punya harga diri yg cukup tinggi, dan selalu berusaha utk mencukupkan dirinya sendiri. Tidak ada kata susah bagi orang kaya. Bisa makan Nasi dan garam saja sudah menjadi kebanggaan sendiri. Ya lho... itu makanan paling mewah yg pernah ada di dunia ini. Carilah orang2 di dunia, dan tantang mereka utk makan Nasi dan Garam saja. Siapa yg bersedia? Hanya orang2 berhati emas yg mampu bisa menikmati makanan semewah itu. Dan hanya orang2 kayalah yg punya hati yg terbuat dari emas.

5. ORANG KAYA TIDAK IRI :
Mengapa harus iri dengan tetanga yg punya mobil baru? Mengapa harus dengki pula dengan teman yg punya rumah mewah? Kita orang kaya kok. Kita punya semua yg mereka miliki, dan semuanya abadi. Gak perlu takut digusur setiap saat, gak perlu takut kebanjiran, gak perlu pusing mikirin gimana bayar cicilan dan pajaknya setiap bulan. Dan yg pasti, gak perlu takut bakal dicuri atau dibobol orang. Semuanya aman dan ga pake ribet. Gak perlu bayar biaya sewa Body-Guard seperti teman2 dan tetangga Anda. Coba pikir... dengan semua kekayaan yg kita miliki dan fasilitas serba "wah" semacam itu, masih perlukah Anda iri pada tetangga dan teman2 Anda?

6. ORANG KAYA TIDAK GAMPANG MARAH :
Orang ngomongin kita? Ngatain kita? Atau bahkan mencibir kita? Trus kenapa? Anda merasa bermasalah? Saya gak tuh. Karena saya orang kaya.. Mengapa? Lha, orang kaya itu punya wawasan yg luas. Justru dengan wawasan luaslah kita bisa kaya seperti sekarang. Bukti kalo orang berwawasan luas adalah dia bisa menerima segala hal, termasuk cibiran, omongan miring, dan gosip tentang dirinya. Dia akan menampung semuanya dan tidak memendamnya. Dia tidak akan frontal membalas semua omongan miring itu. Ngapain ngehabisin tenaga dan waktu buat gituan? Orang kaya justru memusatkan pikirannya utk mencari cara agar bisa menjadi "lebih kaya". Jadi... buat marah2, caci maki orang, atau ngatain orang... gak deh. Itu bukan gawean orang kaya.

7.. ORANG KAYA PUNYA PRINSIP :
Orang kaya tahu harus ke mana. Karena itu dia gak gampang dipelintir, dibeli, atau disuap orang. Jalannya jelas, dan komitmennya kuat. Dia akan melihat apa yg buruk dan yg baik dengan sangat transparan, gak ada istilah zona abu2. Dia punya pertimbangan yg baik dan berani mengambil keputusan serta tanggung jawab dari keputusan yg diambilnya. Gak ada cerita melimpahkan tanggung jawab ke orang lain. Itu gak ada harga diri namanya. Orang kaya kok gak punya harga diri? Memalukan sekali !!!

8. ORANG KAYA MENGHARGAI ORANG LAIN :
Siapapun teman dan lawan kita, di mata orang kaya, semuanya sama. Orang Kaya sangat bisa mengayomi dan berdialog dengan siapapun tanpa prasangka. Orang kaya itu gak picik. Mereka akan sangat antusias menemui lawan yg mengajak bertemu dan berdamai. Mereka juga akan sangat menghargai saran orang2, baik yg membangun apalagi yg menjatuhkan. Dia bahkan akan serta merta memeluk orang2 yg berempati maupun yg tidak bersimpati padanya. Semua orang di matanya sama. Dia memang bukan Tuhan, dan tentu saja porsi persahabatan dengan teman dan musuh juga dia bedakan. Namun dalam kondisi apapun, ketika orang (baik musuh dan teman sekalipun) membutuhkan dirinya, dia akan selalu ada.

9.ORANG KAYA PUNYA TATA KRAMA :
Dalam tradisi orang Tionghua, orang itu bisa kaya kalo menghormati orang tua. Gak percaya? Tengoklah tradisi pemberian angpao. Anda baru bisa dapat angpao dari orang tua kalo Anda bersujud 3X dan menyodorkan air teh pada orang tua.. Semakin banyak angpao, berarti semakin kayalah Anda. Karena itu, orang Tionghua sangat menekankan sikap sopan pada orang tua. Tidak perduli bagaimana kasarnya orang tua mereka, tetapi anak2 selalu menjunjung orang yg lebih tua itu. Mereka akan bersikap sopan, selalu menolong, dan bahkan selalu menghargai para tetua. Tanpa mengeluh. Tanpa dendam. Jadi... jika ingin menjadi kaya, tetap kaya, bahkan semakin kaya, kuncinya hanya 1 : hormatilah orang tua / orang yg dituakan. Lakukan dengan hati yg iklas. Tanpa menunggu waktu lama, hartamu akan bertambah banyak.

Inilah ciri2 Orang Kaya yg benar2 kaya sekaya-kayanya. Jika Anda telah melakukan semua hal ini, maka sudah sangat jelas kalau Anda adalah orang kaya. Tetapi, jika Anda tidak melakukan semuanya, tidak perduli berapa besar hartamu di tabunganmu, dana investasi, atau reksadanamu, engkau hanyalah orang miskin yg paling hina di dunia ini.

So.... Jika ingin sukses dan jadi orang paling kaya di dunia : lakukanlah hal ini !!!
Dan jika semuanya Anda lakukan, sudah dapat dipastikan : Andalah ORANG TERKAYA DI DUNIA !!!


Thursday, 12 March 2009

Warteg, Solusi di Masa Krisis Global

Contro la disoccupazione, l’Indonesia riscopre le microimprese
di Mathias Hariyadi

Crolla l’esportazione (-36% a gennaio), aumenta la disoccupazione già molto alta. Privi di migliori prospettive, i disoccupati reinventano piccole attività, come chioschi ambulanti di ristorazione. Il governo finanzia progetti per favorire le microimprese. Fra queste, anche fare sigarette a mano.

Jakarta (AsiaNews) – Con il crollo delle esportazioni (-36% a gennaio), si aggrava in Indonesia il problema della disoccupazione. La popolazione si inventa piccole imprese familiari e il governo progetta di aiutare questa tendenza.

Dati ufficiali indicano circa 38mila licenziati nei primi due mesi del 2009, oltre 16.300 nella sola Jakarta, soprattutto per la chiusura di fabbriche produttrici di merci per l’esportazione. Esperti prevedono oltre 100mila licenziamenti ulteriori entro giugno. Nel Paese la disoccupazione era già elevata e l’Ufficio statistico indonesiano (Usi) l’ha indicata, nell’agosto 2008, di 9,39 milioni di persone. Arizal Ahnaf dell’Usi ha parlato di recente di “una disoccupazione pari all’8,39% della forza lavoro”.

Molti disoccupati ripiegano su piccole attività imprenditoriali personali. Come il “warteg”, o “ristorante al lato della strada”: chioschi mobili lungo le vie, che propongono cibi e bevande tradizionali e più amati dalla gente, quali il pasticcio di soia chiamato “tempeh” e piatti di tofu.

Questa attività, che può sembrare occasionale, incontra un grande favore nella popolazione cittadina, che può consumare piatti familiari a un costo contenuto e in tempi rapidi, invece di doversi rivolgere a fast-food di stile giapponese od occidentale.

In microimprese analoghe sono coinvolte milioni di persone, che possono aprirle con capitali minimi. Lo ha tenuto presente Erman Suparno, ministro alle Risorse umane e all’emigrazione, che giorni fa, insieme al Ministero dell’istruzione, ha lanciato il programma chiamato “chiosco 3 in1”: vere microimprese in cui il titolare è, insieme, manifattore e fornitore del prodotto.

Ai laureati, spesso privi di lavoro, viene proposto di impegnarsi in attività simili. Agli interessati viene anche impartito un addestramento di base. Per esempio a Malang (Java orientale), la multinazionale del tabacco Phillip Morris e altre industrie locali del settore hanno aiutato oltre 120 disoccupati a diventare “imprenditori”. In due settimane hanno imparato a fare sigarette e a gestirne il commercio. Djaka Ritamtama, funzionario locale, osserva che “costoro possono dare vita a una vera industria di sigarette fatte a mano”.

Suparno dice che “l’anno scorso, almeno 1,9 milioni di persone hanno provato a trovare lavoro con questo programma”. Per il 2009 spera di poter così aiutare almeno 2,5 milioni di disoccupati. Ma un simile progetto chiede un finanziamento stimato in oltre 600 miliardi di rupie (circa 39,2 milioni di euro) per costruire i centri di addestramento e altri 200 miliardi per l’apprendistato.

Tuesday, 10 March 2009

» 06/09/2005 13:00

Cardinale di Jakarta chiede alla polizia di difendere le chiese da attacchi fondamentalisti

Il leader cattolico, insieme a un leader protestante e ad uno musulmano chiedono l'intervento della pubblica sicurezza contro le violenze degli estremisti islamici.

Jakarta (AsiaNews) – Il cardinale Giulio Darmaatmadja – arcivescovo di Jakarta e presidente della Conferenza episcopale indonesiana – si è recato questa mattina dal capo della polizia indonesiana, generale Sutanto, per chiedere un intervento della pubblica sicurezza in caso di nuove attacchi contro ogni religione. Insieme al porporato si sono recati al comando generale della pubblica sicurezza Kiai Haj Hasyim Muzadi, presidente del Nahdlatul Ulama (Nu, la più grande organizzazione musulmana del Paese) ed il reverendo Andreas Yewangoe, presidente del Sinodo delle chiese indonesiane.

Dopo l'incontro il cardinal Darmaatmadja ha sottolineato che ogni problema riguardante le confessioni religiose dovrebbe essere affrontato con dialoghi pacifici. "Non lasciamo – dice il porporato – che il problema venga mantenuto in vita con la violenza da parte di gruppi illegali". Kiai Muzadi ha poi ribadito la necessità di un intervento della polizia in caso di chiusura forzata di chiese da parte di fondamentalisti musulmani. "Non possono avere la legge in mano – continua il leader – e la polizia dovrebbe facilitare ogni incontro volto a chiarire la questione con l'arma più appropriata del dialogo".

L'intervento dei 3 leader religiosi segue la pubblicazione di un documento del presidente indonesiano Susilo Bambang Yudhoyono, in cui si ripete l'impegno governativo a garantire la libertà religiosa. Nel documento, pubblicato il 4 settembre, Susilo chiede alla pubblica sicurezza di prevenire ogni violenza contro le diverse confessioni religiose e chiama in causa Haj Maftuh Basyuni, ministro degli Affari religiosi, che "insieme ai capi locali deve fermare rapidamente la violenza a Bandung, nel West Java".

Il 3 settembre a Jakarta migliaia di fedeli cristiani hanno manifestato insieme all'ex presidente indonesiano Gus Dur, protestando contro la chiusura di 23 chiese nella provincia ad opera dell'Islamic Defender Front (Idf), gruppo composto da fondamentalisti islamici.

Habieb Rizieq, presidente dell'Idf, ha risposto oggi alle accuse ed ha sostenuto che quelle chiuse "non erano chiese ma case, che non hanno il permesso di ospitare celebrazioni o preghiere". Rizieq ha ricevuto nei giorni scorsi la visita di p. Franz Magnis-Suseno – gesuita ed attivista per la pace – e del reverendo Sairin. Durante il colloquio ha confermato la disponibilità del suo gruppo "a prevenire ogni attacco contro le chiese legali, finchè queste rimangono tali".


11/03/2006 09:57

Indonesia, estremisti islamici chiudono con la forza una chiesa cattolica "domestica"

L'incidente è stato confermato ad AsiaNews da un sacerdote locale. Gli assalitori "sono venuti da fuori" e la polizia, informata del fatto", ha "suggerito" alla comunità cattolica di "non fare troppa confusione sull'argomento".

Java (AsiaNews) – L'Islamic Defender Front, movimento indonesiano composto da fondamentalisti islamici, ha chiuso con la forza una chiesa cattolica "domestica" a Sumedang di Garut, circa 350 chilometri dalla capitale Jakarta, ed ha intimato ai fedeli locali di "non cercare un altro luogo dove professare la fede". Lo ha confermato ieri ad AsiaNews un sacerdote locale.

La chiusura forzata è avvenuta il 5 marzo, quando alcuni membri del Fronte – qui meglio conosciuto come Fpi (Front Pembela Islam) – hanno intimato al proprietario della casa dove si svolgevano le messe domenicali di "interrompere immediatamente ogni attività liturgica".

Gli assalitori hanno chiesto un milione di rupie indonesiane (circa 100 dollari) come tangente per non riportare alla stampa locale il caso di "cattolici locali che infrangono la legge". Secondo il sacerdote che ha parlato ad AsiaNews – anonimo per motivi di sicurezza – "i membri del Fpi sono venuti da fuori, non sono abitanti del posto".

In Indonesia, soprattutto nelle aree più remote del Paese, spesso la comunità cattolica decide di destinare una casa o un chiosco – di proprietà di uno di loro – all'attività liturgica. Dato che non vi è una vera e propria parrocchia, questa fase viene chiamata "stasi" e precede l'inizio della lunghissima trafila burocratica per chiedere il permesso di erigere una vera e propria chiesa.

Subito dopo la chiusura della loro cappella, un gruppo di cattolici locali si è recato dalla polizia per denunciare il casi ma "al fine di mantenere la pace nella zona" gli è stato "suggerito" di non fare troppa confusione.

Quest'ultimo incidente dimostra come i nuovi decreti varati pochi giorni fa dal governo per la costruzione di edifici religiosi devono ancora essere applicati nonostante siano stati già approvati.

» 07/09/2005 15:05

Indonesia, cristiani temono attacchi degli estremisti contro i luoghi di lavoro

Cattolici e protestanti usano celebrare messa il venerdì nei loro uffici, quando i colleghi musulmani vanno a pregare in moschea. Il governo promette la revisione del decreto sull'edificazione delle chiese.

Jakarta (AsiaNews) – Rimane alta la preoccupazione tra i cristiani in Indonesia dopo la chiusura forzata di chiese "domestiche" da parte dei fondamentalisti islamici. Si teme che i prossimi bersagli di attacchi saranno gli uffici pubblici. Le comunità protestante e cattolica temono che dopo le case private in cui usavano celebrare messa, gli estremisti prendano di mira gli edifici pubblici, dove i fedeli continuano a riunirsi per funzioni religiose.

Da alcuni decenni - soprattutto nelle grandi città come Jakarta – diversi gruppi di cristiani usano pregare, cantare e celebrare messa nelle ore di riposo del venerdì. Dalle 11 del mattino alle 13.30 del pomeriggio i colleghi musulmani infatti staccano per l'usuale preghiera del venerdì.

Lavoratori cattolici e cristiani sfruttano questo tempo per il loro culto e tengono messe nelle strutture dell'ufficio; la pratica contribuisce a mantenere alto il morale di una comunità di minoranza e aumenta la fratellanza tra i fedeli. Finora questo tipo di incontri non è stato ostacolato; tanto più che i datori di lavoro e l'amministrazione degli stabili interessati avevano già dato il loro permesso.

Catene di e-mail tra cristiani parlano dell'incombente minaccia. In generale, essi temono di continuare a pregare in ufficio, perché qualcuno potrebbe fare la spia ai fondamentalisti e scatenare una rappresaglia. Gli estremisti giustificano le loro iniziative definendo uffici, case, hotel e altri edifici come "chiese illegali".

Non serve a calmare la preoccupazione dei cristiani nemmeno la notizia che ieri le autorità centrali hanno tenuto un incontro straordinario per affrontare il problema. Il Ministro degli Interni, Mohammad Ma'ruf, ha confermato che il governo rivedrà il controverso Decreto ministeriale del 1969 sull'edificazione degli edifici religiosi. Il ministro ha annunciato che il Decreto verrà inserito all'interno della legge sull'autonomia regionale (la Autonomy Law N° 32/2004). Secondo il decreto ogni comunità religiosa che vuole erigere un luogo di culto deve avere il permesso dal capo dell'autorità locale e quello dei residenti della zona di edificazione; ma l'autorizzazione legale non è facile da ottenere e le richieste di chiese da parte dei cristiani cadono quasi sempre nel vuoto.

Misteri Sosok Hambali

Hambali, detenuto a Guantanamo,
è la mente della strage di Bali e dell’attacco contro i cristiani
di Mathias Hariyadi
]
Lo accusano due ex-militanti della Jemaah Islamiah, condannati all’ergastolo per il loro coinvolgimento negli attentati contro le chiese nel 2000. Nel Paese si apre il problema della custodia: un suo rimpatrio alimenterebbe l’ala fondamentalista del Paese che lo considera un “eroe” per gli anni trascorsi a Guantanamo.

Jakarta (AsiaNews) – Riduan “Hambali” Isamudin è la mente che ha ideato la strage di Bali nel 2002 e gli attacchi del contro chiese ed edifici cristiani nel 2000. L’accusa viene da Mubarok e Ali Imron, entrambi membri della Jemaah Islamiyah (Ji), che si dicono pronti a testimoniare contro il capo operativo del movimento fondamentalista islamico nel Sud-est asiatico, rinchiuso nel carcere di Guantanamo.

Mubarok e Ali Imron sono detenuti nel carcere di Jakarta, dove scontano l’ergastolo per il loro coinvolgimento nell’attacco contro alcune chiese del Paese. Nel 2000 una serie di bombe coordinate tra loro sono esplose in sei diverse province, uccidendo 19 persone nel periodo precedente al Natale. Essi hanno evitato la condanna a morte per aver mostrato sentimenti di “rimorso”, collaborando con le forze dell’ordine per far luce sugli attentati. “[Hambali] ci ha fatto il lavaggio del cervello – dichiara Imron – per organizzare la guerra santa contro gli infedeli”.

Le accuse lanciate dai due ex combattenti del jihad e la possibile chiusura del carcere di Guantanamo sollevano un problema serio per le autorità indonesiane: Hambali deve essere rimpatriato o è preferibile che rimanga in una nazione straniera? La questione non è di poco conto: da un lato, un suo ritorno fornirebbe agli inquirenti la possibilità di sottoporlo a interrogatori; egli potrebbe inoltre a chiarire il suo rapporto con il religioso fondamentalista Abu Bakar Baasyir, capo della Ji nel Sud-est asiatico. Dall’altro si apre un problema non indifferente legato alla sicurezza: l’aver trascorso molti anni nella prigione cubana potrebbe elevarlo a “martire” nella lotta contro l’occidente. “Se Hambali ritorna in Indonesia – confida un ufficiale di polizia – diventa di sicuro un eroe. È stato detenuto a Guantanamo. Sarà come una rock star. Ecco perché, per noi, sarebbe preferibile che fosse detenuto negli Stati Uniti”.

Sidney Jones, esperta di terrorismo, ricorda che “se Abu Bakar Baasyir è stato trattato come una celebrità”, per Hambali la risonanza sarà “10 volte maggiore perché detenuto a Guantanamo”. Anche Bambang Hendarso Danuri, comandante delle forze di polizia, dice che le autorità statunitensi “farebbero bene a tenere Hambali fuori dall’Indonesia” per evidenti “motivi di sicurezza”. “Gli interrogatori possono essere condotti anche all’estero – spiega Danuri – non c’è bisogno di fare il lavoro in Indonesia”.

Fonti anonime della polizia riferiscono che, lo scorso febbraio, un gruppo di esperti della sezione anti-terrorismo indonesiana ha incontrato Hambali a Guantanamo. Il terrorista, che godrebbe di buona salute, avrebbe confessato il suo coinvolgimento negli attacchi bomba contro le chiese. Sinora il Ministero indonesiano degli esteri e l’ambasciata Usa a Jakarta non hanno voluto rilasciare dichiarazioni in merito a un “accordo” su chi dovrà custodire il terrorista.

Sebbene non vi siano prese di posizione ufficiali, appare però evidente che le autorità indonesiane preferiscono lasciare in mani altrui la patata bollente. Al momento non vi sono prove sufficienti per incriminare Hambali per la strage di Bali e la confessione dei due terroristi non sembra bastare. Inoltre la legge anti-terrorismo del 2002 non ha effetto retroattivo e non può essere utilizzata nel procedimento a suo carico. Hambali dovrebbe quindi rispondere “solo” dell’attacco alle chiese nel 2000.

Sunday, 8 March 2009

Emprit Abuntut Bedug

Crita seri Detektip Handaka wis kondhang banget ing taun 1960-1990-an ing kalangan Sastra Jawa modern. Crita-critane gagrak anyar, ngudhari wewadine kadurjanan, basa Jawane teteh populer gampang dimangerteni, nanging tetep nugoni pakeme tata basa.

Magerib malam Jumuwah Jarot numpak sepedhah ngliwati praliman Blawuran Surabaya, srempetan karo sepedhahe cah wadon. Ana kanthonge cah wadon mau sing mencelat saka setange. Dijupuk Jarot, diulungake marang sing duwe. Nanging bocahe nampik kipa-kipa, jare kuwi dudu kanthonge. Apa njerone kanthong? Kuwi sing ndadekake penggalihe para maos mingket saka buku wacan iki.

Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Harga : Rp.25.000,-
http://supartobrata.blogspot. com/

==========
Jaring Kalamangga
Novel bahasa Jawa seri Detektip Handaka

Saturday, 7 March 2009

Polwan Diimbau Berjilbab di Polda Jatim

East Java, le donne poliziotto devono indossare il velo islamico
di Mathias Hariyadi

Il nuovo capo della polizia ha emanato una direttiva “non vincolante” per tutte le donne in divisa. Ai poliziotti si chiede anche di pregare cinque volte al giorno. La sede centrale di Jakarta approva la normativa e dice che gli agenti sono “liberi” di seguirla.

Jakarta (AsiaNews) – Le donne poliziotto devono indossare il velo; tutti gli ufficiali di polizia sono obbligati a pregare per cinque volte al giorno, come imposto dai precetti dell’islam. Sono le direttive promulgate dal generale di brigata Anton Bachrul Alam, neo-capo della polizia della provincia di East Java, per “condurre i miei subordinati sulla retta via”.

Egli chiarisce che le disposizioni non sono un “ordine”, ma un “invito” per tenere una regola di condotta che sia conforme agli insegnamenti di un buon fedele musulmano. E in meno di tre giorni le forze di polizia provinciali hanno adottato la politica promossa dal loro comandante. “Penso sia una buona idea”, commenta Umar Effendi, capo della polizia a Sumenep. Juanish, donna e vice-capo della sezione di Bojonegoro, riferisce che “sebbene non sia vincolante, ho dato disposizione perché la regola sia seguita dai miei subordinati”. Nella sezione di Bojonegoro vi sono almeno 130 ufficiali di polizia donne. “Siamo felici di farlo – sottolineano – Mega ed Eva, due donne-poliziotto – Indossando il jilbab [il velo] ci sentiamo più forti e non siamo portate a commettere peccati”.

Dalla sede centrale della polizia a Jakarta dicono che “non ci sono problemi” e si è “liberi” di indossarlo o meno. “Non si tratta di un ordine ufficiale – chiarisce il generale Abubakar Nataprawira, portavoce della polizia – ma solo di un invito dei superiori, lasciamole liberi di indossare ciò che vogliono”.

In Indonesia, il Paese musulmano più popoloso al mondo, portare il jilbab è obbligatorio nella sola provincia di Aceh, l’unica ad aver adottato la sharia. Negli ultimi anni la questione legata al velo islamico si è trasformata in una vera e propria diatriba, che ha coinvolto l’intera società indonesiana. Molti gruppi integralisti islamici hanno chiesto l’imposizione della legge islamica in tutto il Paese, ma si sono scontrati con le autorità le quali temono venga “minacciata l’unità nazionale” e difendono la laicità dello Stato. Negli ultimi mesi i fondamentalisti hanno lanciato campagne di “moralizzazione” che hanno preso di mira lo yoga, i Rotary e i Lions club, il fumo e l’astinenza dal voto.


Friday, 6 March 2009

Indonesia di Ambang Resesi?

Indonesia a rischio recessione. Meno 30% nelle esportazioni
di Mathias Hariyadi

Per il 2009 previsioni di crescita non superiori al 4%. Il calo nell’export aggrava la disoccupazione: ad agosto 2008 quasi 10 milioni senza lavoro, ma le cifre sono destinate a crescere. Ministro delle finanze invoca misure urgenti per frenare il deprezzamento della moneta.

Jakarta (AsiaNews) – In Indonesia cresce il rischio di recessione. A lanciare l’allarme sono gli esperti della Banca centrale (Bi): per il 2009 essi prevedono un tasso di crescita non superiore al 4%, a causa della rapida diminuzione nel volume delle esportazioni e ai prestiti insoluti.

La recessione economia è dovuta a una serie di fattori, il primo dei quali è il crollo nell’export che ha fatto registrare un calo del 30% tra gennaio e agosto del 2008: l’industria manifatturiera e i beni al consumo sono fra le più in crisi. Toto Dirgantoro, segretario generale dell’Associazione indonesiana degli esportatori, riferisce che i settori più colpiti sono l’olio di palma, il tessile, le calzature, la gomma, l’abbigliamento, i prodotti ittici e l’arredamento. Al calo delle esportazioni è legato anche l’aumento dei disoccupati: ad agosto 2008 erano 9,38 milioni le persone senza lavoro, ma le cifre sono destinate a crescere in futuro.

La caduta dei prezzi ha spinto Cina e Pakistan ad annullare i contratti firmati nel 2008; l’Associazione indonesiana del tessile conferma una riduzione forzata nelle esportazioni, conseguenza di un declino pari al 20% nel volume totale degli affari, rispetto a un valore iniziale di 10,48 miliardi di dollari. L’industria tessile è il settore che fornisce il maggior numero di forza lavoro del Paese, con 3,5 milioni di operai suddivisi in più di 4500 fabbriche.

L’Ufficio nazionale di statistica (Bps) indica che nel gennaio scorso si è avuto il calo più significativo nell’export, con una diminuzione del 17,7%. È il dato peggiore fra gli indici mensili degli ultimi 22 anni. I settori più colpiti quello petrolifero e del gas (- 23,85%); il declino negli altri comparti si attesta al 16,67%.

Sri Mulyani, Ministro indonesiano dell’economia, lancia infine l’allarme per la perdita di potere d’acquisto della rupia indonesiana, in calo di 12,033 punti sul dollaro Usa. Egli invoca misure protezionistiche a difesa della moneta, per evitare ulteriori deprezzamenti. Per far fronte alla crisi ed evitare il pericolo di un crollo finanziario, l’Indonesia ha ottenuto un prestito di 5,5 miliardi di dollari Usa da Australia (1 miliardo), Giappone (1,5 miliardi), Banca Mondiale (2 miliardi) e Banca asiatica per lo sviluppo (1 miliardo).